Berikut Kisah Pembantaian 431 Warga Sipil di Rawagede Karawang oleh Belanda

Dubes Belanda ketika di Rawagede Kabupaten Karawang (dtc)

Dubes Belanda ketika di Rawagede Kabupaten Karawang (dtc)


POJOKJABAR.com, KARAWANG – Peristiwa Rawagede Karawang dinilai sebagai kejahatan perang. Sebanyak 431 warga sipil dipercaya tewas ditembak tentara Belanda secara semena-mena.

Di tahun 2019 ini, Pemerintah Belanda kembali meminta maaf atas pembantaian di Rawagede pada masa agresi militer pertama itu.

Peristiwa Rawagede ini menyita perhatian Liesbeth Zegveld dari Biro Hukum Bohler.

Ia turun tangan mewakili korban peristiwa Rawagede menggugat pemerintah Belanda ke pengadilan sipil Den Haag, Rechtbank’s-Gravenhage.

Pada 21 September 2011 pengadilan sipil Belanda memenangkan gugatan warga Rawagede.

Alhasil, pengadilan mewajibkan pemerintah Belanda meminta maaf dan memberi kompensasi terhadap sembilan korban Rawagede, delapan janda, dan satu korban luka tembak.

Setelah putusan itu keluar, pemerintah Belanda langsung meminta maaf secara resmi pada 2011.

Saat itu, Dubes Belanda Tjeed De Zwaan datang ke Rawagede dan meminta maaf.

Tahun ini, melalui Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Lambert Grijn, pemerintah dan rakyat Negeri Oranye kembali menyampaikan penyesalannya atas operasi militer yang terjadi 72 tahun lalu di Rawagede, Kabupaten Karawang.

“Permintaan maaf ini sudah jadi kebijakan kami. Kami menyesal dan memohon maaf sedalam-dalamnya atas tragedi ini,” kata Lambert saat berpidato di Pemakaman Sampurna Raga, Desa Balongsari, Rawamerta, Senin (9/12/2019).

Di hadapan puluhan anak korban pembantaian, Lambert menyatakan tragedi Rawagede adalah salah satu peristiwa terkejam yang dilakukan tentara Belanda saat agresi militer pertama.

Pada periode 1945 hingga 1949, kata Lambert, agresi militer Belanda memakan banyak korban tak bersalah.

“Tentara Belanda pada saat itu melakukan eksekusi tanpa proses hukum. Meski kejadiannya lebih dari 70 tahun lalu, penderitaannya masih dirasakan rakyat Indonesia dan Belanda hingga saat ini,” kata Lambert.

Suasana duka itu, terasa saat kaki Lambert melangkah di kompleks Pemakaman Sampurna Raga. Di pemakaman itu, dikubur 181 jenazah korban pembantaian Rawagede.

“Saya baru empat bulan bertugas di Indonesia. Saat masuk ke sini, ini adalah tempat yang paling berkesan selama kunjungan ke berbagai daerah,” katanya.

“Karena masyarakat Rawagede paling menderita,” katanya saat ditemui setelah menaburkan bunga.

Lambert mengaku akan berusaha sebaik mungkin untuk berempati kepada anak keturunan korban pembantaian Rawagede.

“Seandainya sejarah bisa diubah, tapi itu mustahil. Saya meyakinkan teman dan saudara sekalian, orang-orang Belanda juga tak melupakan kejadian itu,” kata Lambert.

 

(ral/int/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds

Semprot Disinefektan

Pasar Family Mart Disemprot Disinfektan

Pojokbekasi.com – Penyemprotan disinfektan terlaksana di sejumlah kios-kios pedagang pasar Family Mart, Harapan Indah, Pejuang, Medansatria. Penyemprotan dilakukan saat aktivitas …
Kebakaran di Bogor

Gudang Rongsokan di Cibinong Luder Terbakar

POJOKBOGOR.com– Gudang rongsokan di Kampung Muara Beres RT05/03, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, ludes terbakar, Minggu (9/8). Belum diketahui …
Getaran Cinta

GMKB Gelar Getar Cinta di Ciheuleut Bogor

POJOKBOGOR.com– Gerakan Masyarakat Kota Bogor (GMKB) kembali menyelenggarakan bhakti sosial. Kali ini, kegiatan itu bertajuk Getaran Cinta (Gerakan Tebar Sayuran …