Ini Pengakuan Suami Rustia Soal Korban Perdagangan Manusia di KBRI Baghdad

Muhamad Wahyu, suami Rustia./Foto: Istimewa

Muhamad Wahyu, suami Rustia./Foto: Istimewa


POJOKJABAR.com, KARAWANG- Muhamad wahyu, suami dari salah satu korban perdagangan manusia di Irak, Rustia, mengaku sudah dihubungi oleh pihak Kedutaan Besar Republik Inonesia (KBRI) Baghdad.

“Iya, betul, sekarang lagi diurus sama Bapak Arya yang di Kedutaan Irak,” katanya.

Menurutnya, pihak kedutaan menelepon dan memberitahukan jika istrinya tengah diproses kepulangannya ke Indonesia.

Baca: Kabur dari Majikan, KBRI Baghdad Selamatkan 4 Korban TPPO Asal Jabar

 

“Kemarin nelpon Bapak Aryanya, katanya istri, Rustia, sedang di kedutaan, lagi proses pemulangan,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan di Pojokjabar.com, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Baghdad membeberkan kabar gembira terkait para korban perdagangan manusia atau TPPO asal Jawa Barat di Irak, Kamis (31/10/2019).

Hal ini terlihat seperti pada Siaran Pers Nomor 299/Pensosbud/X/2019 terkait “KBRI Baghdad Berhasil Membebaskan PMI Bermasalah di Dahuk, Irak”.

Aria Chandra Utama selaku Pejabat Fungsi Protokol dan Konsuler pada KBRI Baghdad mengatakan bahwa situasi keamanan di Irak tengah tidak kondusif dan marak unjuk rasa di beberapa kota besar.

 

“KBRI Baghdad berhasil membebaskan 4 orang PMI Informal bermasalah. Keempat PMI tersebut adalah Rustia (31), Septiani Almukaromah (24), Tuti bin Ling Emuk (38), dan Lina Pratiwi (32). Mereka bekerja di Provinsi Dahuk, wilayah Kurdistan, sebelah utara Irak,” bebernya kepada Pojokjabar.com melalui siaran persnya.

Berdasarkan hasil wawancara, lanjutnya, Rustia dan Septiani Almukaromah berasal dari Karawang, dan dikirim oleh seseorang berinisial R (beralamat di Cipayung, Jakarta Timur).

“Sementara, Tuti dan Lina berasal dari Sukabumi, dan dikirim oleh seseorang berinisial H (beralamat di Bekasi). Pengiriman non prosedural, bertentangan dengan Kepmenaker nomor 260 tahun 2015 tentang penghentian penempatan tenaga kerja pada pengguna perorangan di Kawasan Timur Tengah,” terang Aria.

 

Keempat PMI tersebut, katanya, kabur dari majikannya pada 29 Oktober 2019, dan tiba di Erbil sekitar pukul 19.30 waktu setempat.

“Dalam perjalanan mereka dibantu supir taksi serta masyarakat setempat hingga diserahkan pada pihak kepolisian Erbil. Sebagai bentuk kepedulian dan keberpihakan, KBRI Baghdad terus melakukan komunikasi dengan mereka, dan menyampaikan kepada kepolisian Erbil bahwa mereka merupakan korban dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang dikirim secara ilegal atau non-prosedural, dan tidak didukung dokumen atau kontrak resmi oleh agen yang tidak bertanggungjawab,” curhatnya.

Setelah dilakukan negosisasi, terangnya, akhirnya disepakati KBRI Baghdad akan mengirimkan staff untuk menjemput para korban.

“Sehubungan waktu sudah malam, maka penjemputan dilakukan keesokan harinya pada 30 Oktober 2019. Di tengah kondisi maraknya unjuk rasa, staff KBRI berhasil menjemput mereka, dan membawa mereka ke Baghdad,” jelasnya.

Upaya KBRI, katanya, untuk membebaskan para korban perdagangan manusia ini tidak mudah, dan mengalami banyak kendala, mengingat jarak dari Baghdad ke Dahuk sekitar 500 KM atau 8 jam perjalanan dengan kendaraan darat, serta jalur yang dilalui merupakan jalur yang tidak aman dengan banyaknya pos pemeriksaan keamanan (check point), dan masih adanya ancaman dari kelompok-kelompok bersenjata.

“Pada tanggal 30 Oktober 2019 malam, ke-4 PMI tersebut tiba dalam keadaan selamat di KBRI Baghdad, dan selanjutnya menunggu proses pemulangan ke Indonesia. Mereka juga sudah menghubungi keluarganya masing-masing di kampung halamannya,” tandasnya.

 (mar/ega/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds