Sebut Naskah Cirebon, Pria Karawang Bongkar Sejarah Terlupakan

Asep R Sundapura, penulis asal Karawang./Foto: Istimewa

Asep R Sundapura, penulis asal Karawang./Foto: Istimewa

POJOKJABAR.com, KARAWANG– Masjid Agung Syekh Quro Karawang memiliki cerita sejarah tersendiri. Kisahnya menjadi bagian dari sejarah Karawang yang terlupakan.

Hal ini terungkap saat Gola Gong alias Heri Hendrayana Harris, penulis sekaligus pendiri Rumah Dunia di Serang mewawancarai sosok Asep R Sundapura, seorang seniman, penulis, sekaligus wartawan online yang prihatin dengan sejarah Karawang yang terlupakan.

Wawancara tersebut ada di akun Youtube GolAGongTV berjudul Sejarah Karawang yang Terlupakan.

“Beliau penyebar Islam pertama kali di Tanah Pasundan. Ke sini tuh tahun 1416 lewat Citarum, Sungai Citarum di belakang, di belakang ada Sungai Citarum, tuh,” kata Asep.

Berdasarkan tradisi lisan masyarakat, dan juga tertulis di Naskah Cirebon, Syekh Quro ini kemudian mendirikan semacam pesantren di sini (katanya sambil menunjuk ke arah Masjid Syekh Quro).

Masjid Syekh Quro Karawang

Masjid Syekh Quro Karawang./Foto: Istimewa

 

Bahkan, katanya, keberadaannya itu ada sebelum adanya Sembilan Wali Songo.

“Banten ‘kan setelah Cirebon, Cirebon berdiri setelah di sini (sambil menunjuk ke arah Masjid Syekh Quro, red). Di sini dulu yang pertama, masjid tertua di Tanah Karawang,” ujarnya.

Syekh Quro, katanya, bukanlah Wali Songo, tetapi ia bisa dikatakan gurunya para Wali Songo.

Gola Gong dan Asep R Sundapura

Gola Gong dan Asep R Sundapura./Foto: Istimewa

 

Berdasarkan naskah-naskah yang ada, tambahnya, seperti naskah-naskah Wankaserta, kemudian naskah-naskah Caruban yang lainnya, serta dari tradisi lisan masyarakat yang berkembang tentang Syekh Quro.

“Dan memang ini sudah menjadi sebuah keyakinan, dan memang tercatat juga di naskah, gitu, kan. Bahwa memang Syekh Quro itu bukanlah sosok mitos seperti yang dikenal selama ini,” terangnya.

ia menegaskan, soal makam Syekh Quro, memang masih kontroversi. Ada yang mengatakan di daerah Masjid Syekh Quro (tangan menunjuk ke arah masjid, red), dan ada yang mengatakan ada di Pulau Bata.

Gola Gong dan Suntoko, dosen Universitas Singaperbangsa Karawang

Gola Gong dan Suntoko, dosen Universitas Singaperbangsa Karawang./Foto: Istimewa

 

“Tapi sampai hari ini pusaranya tidak ada, dan tidak diketahui secara pasti,” ujarnya.

Menurut Asep, Karawang saat ini lebih banyak berkembang ke arah industri, namun masih banyak anak muda Karawang tidak terserap di sektor industri.

“Karena banyak pendatang, dan lain sebagainya, sehingga mereka merasa tersisihkan,” jelasnya.

Asep R Sundapura, penulis asal Karawang

Asep R Sundapura, penulis asal Karawang./Foto: Istimewa

 

Sementara, Suntoko selaku Dosen FKIP Bahasa Indonesia Universitas Singaperbangsa Karawang mengatakan bahwa masih banyak orang yang belum memperhatikan budaya Karawang.

“Mungkin yang lain masih disibukkan dengan dunia lain seperti dunia politik, usaha, tetapi sangat disayangkan budaya Karawang sendiri masyarakat belum mendapat perhatian yang khusus, gitu,” curhatnya.

Kecuali, tambahnya, kalau bidang tari, ada paguyuban-paguyubannya.

“Tapi untuk masalah lain, lain, lain itu masih sangat kurang,” tandasnya.

 

(mar/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds