Diduga Masih Ada Korban Jual Beli Suara, Pemuda Muhammadiyah Minta Usut Tuntas

Para pengurus Muhammadiyah kabupaten karawang (foto: Ega)

Para pengurus Muhammadiyah kabupaten karawang (foto: Ega)

POJOKJABAR.com, KARAWANG – Dugaan kasus jual beli suara Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 yang terjadi di Kabupaten Karawang terus bergulir dan menjadi sorotan banyak pihak.

Kemungkinan korban kasus jual beli yang masif dan tersruktur secara intelektual, yang diduga dilakukan oleh oknum penyelenggara pemilu masih ada dan belum bersuara ke publik.

Kabarnya selain EK Budi Santoso Caleg DPR RI dari partai perindo, akan ada caleg-caleg lainnya yang merasa sudah dirugikan pada pemilu 2019 ini.

Menurut Pengurus Pemuda Muhammadiyah Karawang, kasus tersebut harus di usut tuntas. Lembaga ini ikut angkat bicara menanggapi kasus yang sudah menghebohkan tersebut.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Karawang, Gustiawan MA mengatakan, kasus itu sudah tersebar hingga tingkat regional bahkan nasional serta cukup hebohnya dunia media sosial yang ada di Karawang.

“Kepada pihak terkait dan yang memiliki Bukti yang cukup sebaiknya tempuh jalur yang semestinya agar dapat diselidiki dan ditelusuri sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dan kami mendorong pihak-pihak manapun untuk mengungkap kasus ini dengan terang agar tidak menjadi bola liar yang merugikan dan atau mungkin menguntungkan pihak-pihak tertentu,” ujar Gustiawan, kepada Pojokjabar.com, Senin (17/6/2019).

Namun begitu, sesuai dengan asas hukum yang berlaku di Negara ini, diharapkan semua pihak mengedepankan asas praduga tak bersalah atas oknum-oknum tersebut.

“Saya menghimbau agar kepada semua pihak dapat memahami kasus ini adalah menyangkut personal atau oknum dan sebaiknya tidak dikaitkan dengan lembaganya secara keseluruhan,” ucapnya.

Pihaknya juga mengajak masyarakat dan semua pihak untuk menahan diri dengan tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang berlebihan, namun seraya tetap mengawal permasalahannya agar dapat terbukti dengan terang benderang mana yang benar dan mana yang salah.

“Kita semua sama, menginginkan sebuah kontestasi yang jujur dan adil serta fair yang praktiknya adalah dengan nihilnya kecurangan dan manipulasi,” tandasnya.

Sebelumnya, seorang Caleg dari Dapil Jabar VII yang maju lewat Partai Perindo, Engkus Kusnaya Budi Santoso mengungkap praktek haram suara pemilu yang dilakukan oleh oknum 12 PPK dan 1 komisioner KPU berinisial AM.

EK pria ini biasa disapa mengaku jadi korban mafia jual beli suara oleh penyelenggara pemilu. Saat itu, ia dijanjikan bisa meraih sebanyak 50 ribu suara dengan syarat menyetorkan sejumlah uang. Totalnya hampir mencapai Rp1 Miliar sudah ia serahkan kepada 12 PPK dan 1 Komisioner KPU.

Namun hasil suara pileg yang ia raih ternyata jauh dari harapan. Khusus di Karawang ia hanya meraih sebanyak 4 ribu suara dari 50 ribu yang dijanjikan.

Artinya, EK harus gagal melenggang ke senayan di luar konteks gagalnya Perindo dalam Parlementary Threshold. (Ega/Pojokjabar)

loading...

Feeds