Viral Video Mesum Pelajar SMP di Kuningan, Guru Ngaku Jadi Pembelajaran bagi Sekolah Lainnya

video mesum (ilustrasi)./Foto: Istimewa

video mesum (ilustrasi)./Foto: Istimewa

POJOKJABAR.com, KUNINGAN– Video mesum diduga diambil secara sembunyi-sembunyi di Kabupaten Kuningan viral.

Video tersebut ramai menjadi perbincangan berbagai grup media sosial WhatsApp dan lainnya.

Hal ini membuat dunia pendidikan di Kabupaten Kuningan tercoreng dengan beredarnya video mesum sepasang muda-mudi.

Sepasang muda-mudi tersebut diduga pelajar SMP di wilayah Utara Kuningan. Video berdurasi 1 menit 39 detik tersebut memperlihatkan adegan mesum pelajar SMP di dalam ruang kelas yang tengah sepi.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan Maman Hermansyah saat dikonfirmasi tentang video mesum sepasang pelajar SMP di Kuningan tersebut mengaku telah mengetahuinya. Pihaknya pun telah menindaklanjuti kasus tersebut dengan memanggil pihak sekolah untuk klarifikasi. “Kami sudah memanggil pihak sekolah untuk klarifikasi. Kami masih mendalaminya, bahkan sudah sampai ke pihak kepolisian,” ungkap Maman singkat.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kuningan Pipin Mansyur Arifin mengaku prihatin jika benar pelaku dalam video mesum tersebut adalah pelajar SMP di Kabupaten Kuningan. Dia berharap dengan adanya video mesum yang dilakukan oknum pelajar di salah satu sekolah menjadi pembelajaran bagi sekolah lainnya agar tidak terulang kembali kejadian tersebut.

“Tentu saja kami sangat prihatin dengan adanya kejadian tersebut. Ini menjadi PR besar bagi dunia pendidikan untuk lebih memperhatikan anak didiknya. Dan mungkin untuk lebih mengedepankan pendidikan berkarakter yang humanis,” kata Pipin.

Pipin berharap, pihak sekolah tidak memberikan hukuman terhadap oknum pelajar tersebut. Akan tetapi, kata dia, harus diberikan pembinaan dengan cara pendekatan. Dan sekolah pun tidak perlu dipersalahkan dengan adanya kejadian ini.

“Dengan adanya kejadian ini kita semua pihak harus introspeksi bagaimana ke depannya untuk lebih baik dan tidak terulang kembali. PGRI akan selalu memberikan support untuk sekolah dan guru-guru juga dinas pendidikan untuk terus berkolaborasi meningkatkan pendidikan berkarakter,” ujar Pipin.

Di tempat terpisah, mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan yang kini menjabat Sekda Kabupaten Kuningan Dian Rahmat Yanuar mengaku belum mengetahui secara pasti adanya video mesum oknum pelajar SMP yang beredar luas tersebut.

“Kalau memang itu benar ada, saya ikut prihatin dengan adanya hal tersebut. Ini sebagai warning untuk kita semua, bahwa pengawasan dan pembinaan itu tidak hanya dilakukan dan diserahkan kepada pihak sekolah saja. Akan tetapi semua pihak harus ikut terlibat melakukannya terutama keluarga,” kata Dian.

Dian berharap, ini dapat dijadikan pembelajaran bagi semua pihak. Dan Dian akan memanggil semua pihak terkait untuk meminta penjelasan dengan adanya kejadian ini.  “Saya akan segera mungkin memanggil Plt Kadisdiknya, kepala sekolah dan guru-gurunya untuk meminta penjelasan tentang kejadian ini,” ujar Dian.

Dian berharap ini dijadikan pembelajaran bahwa sistem pendidikan di Kabupaten Kuningan masih ada yang bolong-bolong, masih ada kelemahan terkait kendali dan pengawasan. Ke depannya, pihak sekolah agar dapat melakukan pembinaan dan pengawasan lebih intensif lagi. Dapat melakukan kerja sama dengan orang tua murid, komite sekolah dan tokoh masyarakat agar lingkungan di sekolah lebih terawasi.

Kejadian video mesum pelajar SMP ini pun mendapat tanggapan seorang aktivis sosial komunitas Generasi Tanpa Pacaran (GTP) Amar Thohir yang menyayangkan kejadian tersebut. Menurut dia, keberadaan video tersebut salah satu bukti pergaulan bebas kalangan pelajar di Kabupaten Kuningan sudah cukup mengkhawatirkan.

“Saat ini pacaran sudah dianggap hal wajar, bahkan orang tua membebaskan anak yang masih di bawah umur untuk pacaran. Padahal itu merupakan salah satu gerbang untuk melakukan zinah. Dalam Islam pun larangannya adalah untuk mendekati zinah, jadi pacaran meski pun belum berzinah tapi menurut hukum agama tetap haram karena sudah mendekati zinah,” papar Amar.

Menurut Amar, dalam menangani pergaulan bebas remaja sebenarnya merupakan tanggung jawab bersama baik orang tua, guru terutama pemerintah. Menurutnya, Kabupaten Kuningan yang menjadikan salah satu visi pembangunan adalah Agamis, tapi di taman-taman bahkan di halaman masjid banyak digunakan untuk pacaran.

“Saya mendengar ada perda yang mengatur larangan untuk taman kota, masjid dan beberapa lokasi penting untuk tempat pacaran, tapi fakta di lapangan justru banyak yang melakukan perbuatan terlarang itu tepat di depan dan samping pos penegak perda. Taman kota itu ada di depan pos Satpol PP dan halaman Masjid Agung Syiarul Islam itu ada di sampingnya, tapi seperti ada pembiaran atau memang tidak tahu,” ketus Amar.

Untuk itu pihaknya berharap pada pemerintah untuk lebih serius menyikapi masalah pacaran ini. Karena dampak dari perilaku sex bebas ini sangat fatal untuk masa depan generasi penerus bangsa. Banyaknya kasus hamil di luar nikah, menggugurkan kandungan yg mengancam keselamatan, frustrasi dan gila karena putus cinta, bahkan sampai bunuh diri atau dibunuh oleh pasangannya untuk menutupi aib.

Untuk itu, Amar selaku salah satu pembina komunitas Generasi Tanpa Pacaran Kuningan merasa sangat perlu untuk merangkul generasi muda melalui komunitas tersebut. Tujuannya adalah agar generasi muda Kuningan terhindar dari perilaku sex bebas yang bahkan menyebabkan hamil diluar nikah.

“Untuk itu GTP pada hari Ahad besok jam 8.00 WIB di Masjid Syi’arul Islam akan menyelenggarakan acara pembinaan kepada para pelajar, khususnya dengan narasumber Wakapolres Kuningan. Kami mengharapkan kehadiran para generasi muda terutama dari kalangan pelajar bisa banyak yang hadir,” ungkap Amar.

(fik/RC/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds