Heboh, Rebutan Tumpeng di Tradisi Babarit

Ribuan warga Kuningan berebut mencicipi tumpeng nasi kuning setinggi 1,7 meter hingga habis, dalam rangkaian hari jadi ke-517 Kuningan,Senin  (31/8/2015).

Ribuan warga Kuningan berebut mencicipi tumpeng nasi kuning setinggi 1,7 meter hingga habis, dalam rangkaian hari jadi ke-517 Kuningan,Senin (31/8/2015).

POJOKJABAR.COM,KUNINGAN – Rebutan tumbeng raksasa mewarnai peringatan Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-517. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan menggelar upacara Babarit, yang merupakan tradisi mensyukuri segala karunia Allah SWT atas melimpahnya kekayaan alam yang telah diberikan. Dengan mengenakan pakaian adat sunda, para pejabat pemerintah berbaur dengan ribuan masyarakat di depan Pendopo Pemkab Kuningan.

Satu tumpeng raksasa, semakin memeriahkan upacara tersebut memang menarik perhatian warga. Tumpeng yang menghabiskan beras seberat 3 kuintal tersebut, dibuat dengan tinggi 1,7 meter dengan diameter 110 cm merupakan karya apik dari Mayang Catering. Bersama dengan sejumlah tumpeng berukuran lebih kecil, tumpeng raksasa tersebut diserbu oleh ribuan warga.

Bupati Kuningan Hj Utje Ch Suganda MAP tampak hanyut dalam kemeriahan dan kegembiraan ribuan warga yang turut serta ke jalanan, di mana tumpeng berukuran raksasa berisi makanan dan lauk pauk diperebutkan. Bupati didampingi wakilnya, H Acep Purnama MH juga menyempatkan diri larut dalam alunan musik tradisional untuk menari tarian adat suku sunda.

“Acara adat ini digelar rutin setiap tahun oleh Pemkab Kuningan, dalam rangka menjaga dan melestarikan serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya serta adat istiadat masyarakat Kuningan. Selain itu, Babarit menjadi sarana syukuran terhadap limpahan kekayaan alam yang dimiliki daerah sekaligus memperingati Harjad Kuningan ke 517 Tahun,” ungkap Bupati Utje di sela upacara.

Dengan digelarnya Babarit ini, pihaknya berharap masyarakat menjadi maju dan sejahtera serta terhindar dari berbagai musibah. Acara ini juga menandakan bahwa warga Kuningan adalah warga yang pandai bersyukur atas karunia Allah SWT.

Pihaknya berkomitmen agar tradisi kebudayaan Babarit harus terus dilestarikan. Karena merupakan salah satu aset budaya yang memiliki nilai-nilai luhur adat istiadat masyarakat yang cukup tinggi, serta merupakan penghargaan para leluhur setempat.

“Seperti kata pepatah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Sehingga dapat dikatakan acara babarit merupakan implementasinya. Semoga adanya acara ini mampu menjaga kondusivitas, ketentraman, kedamaian dan terus berupaya melestarikan budaya serta adat istiadat lokal sebagai filter dari budaya-budaya asing,” ungkapnya.

Sementara itu, Owner Mayang Catering Hj Nurhayati merasa bangga bisa mempersembahkan karyanya berupa tumpeng raksasa. Ia mengakui, pembuatan tumpeng tersebut tidak mudah. Kala belum menemukan teknis pembuatannya, tumpeng itu selalu terjatuh.

“Sudah empat tahun ini kami membuat tumpeng berukuran besar. Alhamdulillah baru kali ini kami mampu membuatnya diam, tidak terjatuh. Kami sudah menemukan teknis yang efektif,” ujar wanita pengusaha yang kerap mendapatkan berbagai penghargaan baik tingkat provinsi maupun nasional itu.

Pihaknya merasa puas lantaran tumpeng buatannya itu habis dinikmati warga hingga tak tersisa. Ini karena dalam pembuatan tumpeng tersebut dirinya bukan hanya sekadar memperhatikan bentuk, melainkan pula memperhatikan rasa. (ded/dea)

Feeds