Tak Punya Uang Bayar Kontrakan, Pilih Hidup di Tenda

Keluarga Yuliana hidup di tenda

Keluarga Yuliana hidup di tenda

POJOKSATU.id, CIREBON– Keluarga Yuliana (34) harus memasang tenda di pinggir jalan sebagai tempat tinggalnya lantaran tak memiliki uang untuk mengontrak rumah.

Namun, kondisi itu tak membuat warga Kota Cirebon, Jawa Barat itu larut dalam kesedihan. Baginya,
kebahagiaan tak melulu diukur dari harta. Kesederhanaan, kasih sayang, dan kebersamaan, itu kuncinya. Meski hanya memiliki sebuah becak dan tenda di pinggir jalan, kebahagiaan terpancar dari wajah keluarga kecil ini.

Seperti yang diketahui, warna pink atau merah muda melambangkan cinta dan kasih sayang. Filosofi inilah yang dipercaya Yuliana. Bapak dua orang anak ini sengaja mewarnai seluruh bagian becaknya dengan warna pink. Bukan tanpa alasan, dengan warna pink itu Yuliana ingin memaknai bahwa hidup harus penuh kasih sayang apapun kondisinya.

Becak pink itu menemani keseharian Yuliana dan keluarga untuk mencari pundi-pundi rupiah. Kehidupan Yuliana dan keluarga jauh dari kata cukup. Tak ada rumah mewah, tempat tidur yang empuk, dapur yang lengkap, apalagi ruang keluarga yang nyaman. Ia hidup berpindah dari emperan jalan yang satu ke jalan yang lain dengan hanya mendirikan tenda seadanya.

“Hidup memang keras, tapi tetep harus dijalanin. Makanya becak saya warnain pink semua, supaya kalau lihat becak ini saya gak lupa untuk terus cinta dan sayang sama keluarga baik suka maupun duka,” ujarnya saat ditemui di sekitar Jl Cipto MK, Kota Cirebon, kemarin (11/5).

Kepada Radar, pria asal Klayan, Gunungjati, Kabupaten Cirebon, itu menceritakan pengalaman hidupnya. Ia dan keluarga hidup di jalanan sudah lebih dari satu bulan. Bukan keinginan Yuliana untuk hidup di jalanan. Keadaan yang membuatnya seperti itu.

“Jadi ceritanya becak pertama saya hilang di pasar. Saya waktu itu lagi kerja di pasar, ngumpulin uang yang tadinya buat bayar kontrakan jadi saya pake buat beli becak lagi. Jadi saya gak bisa bayar kontrakan waktu itu, saya bawa anak istri tidur di jalanan karena gak punya rumah,” ungkap suami dari Huriah (32) itu.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sisa harta yang dimiliki Yuliana saat membawa keluarganya tinggal di jalanan malah diambil orang. Terlebih, istrinya saat itu sedang hamil besar anak kedua. Pakaian dan sejumlah uang hilang diambil orang.

“Uang buat biaya persalinan hilang pas kita tidur di emperan jalan, itu tepat satu minggu istri mau melahirkan,” bebernya seperti dilansir Radar Cirebon, Selasa (12/5/2015).

Di balik musibah, tentu ada makna dan kebaikan yang tersimpan. Hal itu dipercayai oleh keluarga Yuliana. Saat istri melahirkan, Yuliana tak mengeluarkan uang untuk biaya persalinan. Ada seorang bidan yang menolong dan tidak membebani biaya kepada keluarga Yuliani. Bayi mungil yang diberi nama Faturohman itu kini sudah berusia tujuh hari.

Faturohman harus tinggal bersama ayah, ibu, dan kakaknya Putri Kayla Ramadhani (3) di sebuah tenda kecil. Mereka hidup di tengah kerasnya jalanan. Mandi, menyuci pakaian pun menumpang. Untuk makan sehari-hari, keluarga ini mengandalkan penghasilan dari becak pink milik Yuliana. Dalam sehari, Yuliana bisa mendapatkan uang Rp15 ribu sampai Rp100 ribu.

“Gak tentu, kadang gak dapat uang sama sekali. Kadang kalau lagi rezekinya, ada yang sewa becak ini karena bilangnya unik. Ada yang sewa setengah hari Rp50 ribu, kalau sehari Rp100 ribu,” katanya.

Ada keinginan Yuliana yang sampai sekarang belum terwujud. Ia ingin mendapatkan tempat tinggal yang layak dan memiliki identitas yang resmi untuk anak istrinya.

“Kalau rumah sih pasti semua orang ingin. Ada hal yang lebih penting juga, saya ingin istri dan anak-anak saya punya identitas. Sekarang belum ada, karena istri KTP masih Lombok, karena istri saya orang sana,” ujarnya.

“Saya minta bantuan ke Depnaker sampai ke catatan sipil katanya harus ada surat pengantar dari Lombok. Boro-boro mau ke Lombok, buat makan aja susah. Sampai sekarang belum ada solusi, mohon untuk pemerintah setempat barangkali ada jalan keluar untuk masalah ini,” harapnya.

(mik/one)

Feeds

Rektor IPB Arif Satria dirawat di RS EMC Sentul Bogor

Rektor IPB Positif Covid-19 Lagi

Rektor institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, terkonfirmasi positif Covid-19 kedua kalinya, usai sempat positif pada September 2020.