Pencuri Air di Cirebon Gunakan Pipa Sebesar Gajah

DPRD Kuningan sidak pipa air seberar gadjah

DPRD Kuningan sidak pipa air seberar gadjah

POJOKSATU.id, KUNINGAN – Ko­misi II DPRD Ku­ningan menemukan pencurian air di Ci­paniis, Ke­camatan Pasawahan. Tidak tang­gung-tanggung, pipa yang digunakan untuk mengalirkan air tersebut sebesar gajah atau sekitar 200 inch.

“Pipanya segede gajah, besar sekali. Konon ini merupakan peninggalan zaman Belanda pada tahun 1937. Pipanya dikubur di dalam tanah kisaran empat meter, dan ini tidak terdeteksi. Pengakuan petugas PDAM Kota Cirebon, pipa ini aktif tapi tidak dipasang water meter,” ungkap Ketua Komisi II, H Dede Ismail SIP, seperti dilansir Radar Cirebon, Kamis (7/5/2015).

Dede mengakui, adanya pipa ilegal tersebut ditemukan secara tak sengaja. Pada saat itu, dia bersama sembilan personil Komisi II lainnya melakukan survei ke sumur reservoir Cipaniis yang digunakan PDAM Kota Cirebon. Sumur tersebut legal dan sudah cukup lama dimanfaatkan dengan jalinan kerja sama dengan Pemda Kuningan.

“Sumurnya dalam, sekitar 6-7 meter. Ada pipa ukuran 600 inch dan juga pipa-pipa lebih kecil kisaran 100 inch. Water meter dipasang di hilir dengan sistem ultrasonic. Tapi ini memang legal,” tutur politisi Gerindra itu menceritakan.

Tapi ternyata, lanjut dia, para wakil rakyat melihat adanya reservoir di sebelah barat sumur legal. Saat ditanyakan, karyawan PDAM Kota Cirebon menyebutkan, tampungan air diambil dari sumber mata air sisa bangunan Belanda. Lokasi mata air tersebut berada di sebelah selatan sumur legal berjarak sekitar 100 meter.

“Pengakuan petugas, reservoir-nya masih aktif di­gu­nakan oleh PDAM Kota Cirebon. Pipanya segede gajah sekitar 200 inch, dan ternyata tidak dipasang water meter,” kata Dede diamini salah seorang anggota Komisi II, H Karyani.

Sumur peninggalan Belanda itu, kata Dede, berada di bawah permukaan tanah. Untuk masuk ke dalamnya, dibu­tuhkan alat penyelam lan­taran sedalam kurang lebih 100 meter. Keberadaan mata air ini, menurut dia, patut diper­tanyakan kepada para pihak terkait.

“Saya kok heran, kenapa eksekutif sampai tidak mengetahuinya. Padahal air yang digelontorkannya teramat besar. Bayangkan saja, pipanya juga segede gajah. Mungkin saja pemanfaatan air ini sudah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun tanpa water meter,” duganya.

(ded/one)

Feeds

Rektor IPB Arif Satria dirawat di RS EMC Sentul Bogor

Rektor IPB Positif Covid-19 Lagi

Rektor institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, terkonfirmasi positif Covid-19 kedua kalinya, usai sempat positif pada September 2020.