1,1 Juta Pelajar dan Mahasiswa Terjerumus Narkoba, Literasi Digital Harus Jadi Kunci Pencegahan Bersama

Literasi digital

POJOKJABAR.COM,JAKARTA – Direktorat Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum, dan Keamanan. Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Komisi I DPR RI menyelenggarakan Webinar Forum Diskusi Publik
dengan tema “Membentuk Generasi Cerdas Tanpa Narkoba.”


Diskusi daring yang dimotori Moderator Syamsul Arifin, M, M.I.Kom, cukup menarik dengan pembahasan mengenai Narkoba dengan tema “membentuk generasi cerdas tanpa narkoba” ditengah era digital saat ini.

Sejumlah nara sumber yang diundang menjadi pembicara, yakni Muhammad Iqbal S.E / Anggota DPR RI, Drs. Gun Gun Siawadi, M.Si, / selaku Pakar Literasi Digital dan AB Sarca Putera S.Kom selaku pegiat sosial

Menurut Muhammad Iqbal, bukan tanpa dasar tema tersebut dipilih, karena berdasarkan survei internal Badan Narkotika Nasional (BNN) pada masa dan pasca pandemi Covid-19 saat ini. Peredaran narkotika di kalangan masyarakat mengalami kenaikan bahkan dengan beragam modus yang terbilang anyar dalam pendistribusiannya.


“Yang cukup memprihatinkan, BNN memperkirakan sedikitnya 1.1 juta pelajar dan mahasiswa Indonesia, ikut terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba,” jelas Muhammad Iqbal.

Sementara itu menurut Gun Gun Siswadi, selaku pegiat literasi digital, menjelaskan bahwa beberapa permasalahan sosial di kalangan pemuda yakni narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA), juga memicu tingginya angka kriminalitas serta penyebaran virus HIV/AIDS.

“Persoalan karakter negatif anak bangsa ini, tak lepas dari situasi dan kondisi akibat terpaan era globalisasi. Namun dampaknya tidak selalu negatif, katena banyak hal positif juga banyak kita rasakan, ” ujar Gun Gun.

Ditambahkan Gun Gun, bahwa Globalisasi sebagai perubahan sosial dalam bentuk semakin bertambahnya keterkaitan antara masyarakat dengan faktor-faktor yang terjadi akibat lintas budaya dan perkembangan teknologi modern.

“Generasi muda sebagai generasi harapan bangsa harus siap menerima estafet kepemimpinan. Oleh karemanya, perlu menjadi perhatian bersama dalam menyikapi kondisi yang sangat kompleks, ” paparnya.

Narasumber lainnya, AB Sarca Putera menjelaskan bahwa proses pembentukan karakter generasi muda harus dimulai dari penetapan karakter pribadi yang sama-sama diharapkan dapat berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan berkomitmen.

“Untuk meningkatkan peran dan partisipasi pemuda, maka pemerintah
melakukan upaya meningkatkan kualitas pemuda sebagai insan pelopor
penggerak pembangunan, dan sumber daya manusia yang mampu menghadapi
berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang untuk berperan serta dalam
pembangunan. Masalah generasi muda dan kepemudaan tidak hanya menjadi
tanggung jawab pemerintah saja. Semua pihak harus turut aktif mengarahkan
pembentukan generasi muda yang berkarakter dan tanpa narkoba, ” papar AB Sarca selaku pegiat sosial.

AB Sarca melihat, bahwa membangun generasi yang bebas dari penyalahgunaan narkoba tentu bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Beberapa hal penting yang layak diperhatikanagar hasilnya benar-benar efektif, dalam lingkungan keluarga, orangtua harus memberikan kasih sayang yang cukup terhadap para remajanya,” jelasnya.

Diakui AB Sarca, bahwa pendidikan merupakan suatu instrumen kedua setelah keluarga, untuk memberikan kualitas dari generasi-generasi penerus bangsa dalam membangun karakter generasi anti
narkoba.

“Informasi dan komunikasi publik ini berfungsi mengembangkan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
masyarakat agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan hal-hal di atas perlu adanya diseminasi informasi publik kepada
masyarakat, ” terangnya.

Diskusi publik yang diadakan oleh kominfo RI bersama Komisi 1 DPR RI mengangkat tema “peran media sosial dalam merawat demokrasi digital”. Diskusi ini berlangsung melalui virtual zoom meeting pada hari sabtu (10/09/2022) lalu.(zag/POJOKJABAR)