DPRD NTT Angkat Suara Soal Kerumunan NTT

Kerumunan Jokowi di Maumere, NTT./Foto: Istimewa

Kerumunan Jokowi di Maumere, NTT./Foto: Istimewa


POJOKJABAR.com– Kerumunan warga di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, merupakan reaksi spontanitas warga. Hal itu merupakan kerinduan dan kecintaan masyarakat NTT atas sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Demikian penilaian Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Timur (NTT) Emilia Nomleni.

”Kerumunan warga di Maumere saat kunjungan Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu itu bukan diatur, tetapi karena reaksi spontanitas dari warga setempat yang rindu akan kehadiran seorang pemimpin negara,” kata Emilia Nomleni seperti dilansir dari Antara di Kupang, Sabtu (27/2).

Menurut dia, kedatangan Presiden Jokowi meresmikan Bendungan Napung Gete pada Selasa (23/2) merupakan hal yang sangat dinanti-nantikan warga di daerah itu. Apalagi sudah dua kali ditunda kedatangannya.

Bagi masyarakat Maumere dan Sumba, mulai dari Sumba Barat Daya, Sumba Barat, dan Sumba Tengah, kedatangan seorang pemimpin negara seperti Presiden Jokowi adalah hal yang patut dibanggakan.

”Kita memahami kondisi masyarakat dengan adanya Covid-19, tetapi tentunya presiden dengan adanya Covid-19 ini tidak mungkin berhenti bekerja atau duduk-duduk saja, sebab ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum menyelesaikan tugas,” ujar Emilia Nomleni.

Politikus PDIP itu menambahkan, masyarakat di dua daerah itu paham dengan adanya kondisi Covid-19 seperti saat ini.

”Tapi karena kerinduan akan kehadiran seorang pemimpin negara hal itu tak bisa dibendung. Masyarakat di daerah itu tentunya merasa bahwa momen kehadiran Presiden itu tak akan terulang lagi, sehingga momen seperti itu tak boleh dilewatkan,” papar Emilia Nomleni.

Wakil Ketua DPRD NTT Inche Sayunna menambahkan, kejadian kerumunan di Maumere dan juga beberapa video di Sumba yang menunjukkan anggota paspampres jatuh akibat didorong ibu-ibu, di luar dugaan aparat keamanan.

”Kejadian itu sebenarnya spontanitas warga berada di luar dugaan aparat. Dari video-video yang beredar kita lihat sendiri bagaimana aparat tidak bisa membendung warga yang ingin sekali melihat langsung Presiden Joko Widodo,” terang Inche.

Menurut politikus Golkar itu, jika berbicara soal protap protokol kesehatan memang melanggar. Tetapi, setiap orang harus melihat konteksnya bahwa kerumunan itu terjadi bukan disengaja.

”Jadi, tidak ada orang yang menggerakkan untuk berkerumun dan tentu saja ini bukan salah pemda atau aparatnya yang tidak bisa mengatur warga, tetapi ini karena spontanitas warga,” ucap Inche.

(jpc/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds