Ini Perbedaan Kritikus dan Radikalisme Kata Dedi Mulyadi, Menyoroti Masalah Dilaporkannya Tokoh Muhammadiyah Din Syamsudin

Dedi Mulyadi, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI. (Foto dok.redaksi)

Dedi Mulyadi, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI. (Foto dok.redaksi)


POJOKJABAR.com, BANDUNG – Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menilai, masyarakat dan pemerintah harus bisa membedakan antara kritik dan radikalisme. Karena kedua kata tersebut jauh berbeda makna dan artinya, jangan samakan kedua kata tersebut.

Demikian hal itu diungkapkan Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi terkait laporan Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni ITB kepada tokoh Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

“Kita harus bisa membedakan mana kritikus mana radikalis, jadi kalau kritikus senantiasa kritik pemerintah dari sisi kebijakan di bidang sosial,ekonomi, pembangunan infrastruktur, ketatanegaraan dan aspek yang bersifat kebijakan politik maka kritikus senantiasa mengkritik kebijakan itu,” kata Dedi Mulyadi yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua komisi IV DPR RI, lewat sambungan telepon.

Berbeda dengan kritik, Dedi menilai radikalisme justru lebih mengedepankan isu-isu tentang agama dan keyakinan suatu kelompok.

“Radikalisme senantiasa yang diomongin aspek yang bersifat agama dan keyakinannya. menyerang orang dari cara pandang dia dalam keinginannya menerapkan sistem syariat yang diyakini. Radikalis itu jarang menyoroti kebijakan pembangunan,” tambah Dedi Mulyadi, menjelaskan tentang dua definisi antara Radikalisme dan Kritikus.

Kritik, lanjut Dedi, justru sangat diperlukan negara untuk memperbaiki kekurangan dari setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Sehingga negara merasa diingatkan dengan adanya kritik tersebut, akhirnya ada perbaikan dari kekurangan dari apa yang disampaikan melalui kritik.

“Kritikus sangat diperlukan dalam manajemen pengelolaan pemerintahan agar terjadi check and balance. Dalam bertata negara dari sudut pandang manapun perlu ada kritikan, agar pengelolaannya menjadi sempurna,” ungkapnya.

Sementara radikalisme, akan lebih banyak berisi ancaman baik kepada individu atau bahkan kepada negara. Dia pun mengimbau kepada masyarakat agar jeli menilai dan membedakan antara kritikus dan radikalisme.

“Kaum radikal itu cara menyampaikannya dengan cara radikal, biasanya engan ancaman pembunuhan, ancaman revolusi, ancaman peledakan bom. Masyarakat harus membedakan mana kaum radikal mana kaum kritikus. Jadi jangan sembarangan menuduh seorang kritikus menjadi radikalis,” jelas Dedi Mulyadi.

Wakil ketua komisi IV DPR RI tersebut mebjelaskan secara gamblang perbedaan antara kritikus dan radikalisme, sehingga masyarakat bisa cerdas dalam menyikapi antara mana kritik dan mana radikalisme. Karena keduanya memiliki perbedaan yang mencolok dan bertolak belakang. (Adw/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds

Rektor IPB Arif Satria dirawat di RS EMC Sentul Bogor

Rektor IPB Positif Covid-19 Lagi

Rektor institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, terkonfirmasi positif Covid-19 kedua kalinya, usai sempat positif pada September 2020.