Studi Perlihatkan Hububngan Antara Penekanan Mobilitas dan Penurunan Covid-19

Ilustrasi

Ilustrasi


POJOKJABAR.com– Suatu penelitian membuktikan mobilitas orang setiap hari bisa meningkatkan kecepatan virus dan meningkatkan jumlah kasus.

Masa pandemi Covid-19 pun akhirnya membuat semua orang dianjurkan lebih baik tinggal di rumah saja demi memutus mata rantai penularan.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam konferensi pers, Selasa (20/10), menjelaskan terdapat berbagai studi yang memperlihatkan hubungan antara penekanan mobilitas masyarakat dengan penurunan kasus dan kematian akibat Covid-19.

Berdasar penelitian ilmuwan Tiongkok, Zhou dan rekan-rekannya (2020), ternyata pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 20 persen akan melandaikan kurva kasus sebanyak 33 persen dan menunda kemunculan puncak kasus selama 2 minggu.

Kemudian, pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 40 persen dapat melandaikan kurva kasus sebanyak 66 persen dan menunda kemunculan puncak kasus selama 4 minggu. Terakhir, pengurangan mobilitas dalam kota 60 persen dapat melandaikan kurva kasus sebanyak 91 persen dan menunda puncak kasus selama 14 minggu.

Studi lainnya yakni Yilmazkuday (2020) yang dibuat dari 130 negara, meski hanya 1 persen menahan mobilitas orang di dalam rumah, ternyata pengaruh positifnya signifikan.

“Hanya satu persen masyarakat yang berdiam di dalam rumah akan kurangi 70 kasus dan 7 kematian mingguan,” kata Prof Wiku.

Lalu jika ada 1 persen pengurangan mobilitas masyarakat dengan transportasi umum di terminal, bandara, atau stasiun, akan mengurangi 33 kasus dan 4 kematian mingguan. Dan jika ada 1 persen pengurangan kunjungan masyarakat ke tempat ritel dan tempat rekreasi akan mengurangi 25 kasus dan 3 kematian mingguan. Dan apabila terjadi 1 persen pengurangan kunjungan ke tempat kerja atau WFO akan kurangi 18 kasus dan 2 kematian mingguan.

“Bisa kita bayangkan berapa banyak nyawa yang bisa kita lindungi dengan terjadinya berbagai kunjungan,” paparnya.

Berdasar itu, menjelang libur panjang akhir pekan nanti pada 28 November, Prof Wiku mengingatkan agar masyarakat yang ingin berlibur di luar kota pada periode liburan 28 Oktober-1 November, untuk memikirkan kembali. Sebab angka kasus Covid-19 dan penularannya masih tinggi.

“Apabila tak mendesak, sebaiknya urungkan niat untuk berlibur dan tetap berada di rumah saja,” tegasnya.

(jpc/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds