Perempuan Indonesia Ungkap Kesiapan Gelombang Kedua Covid-19 di Belanda

Kondisi di Belanda saat pandemi Covid-19./Foto: Istimewa

Kondisi di Belanda saat pandemi Covid-19./Foto: Istimewa


POJOKJABAR.com– Warga Indonesia di negara Belanda mengungkap kondisi terkini di tempat rantuannya, khususnya di Delft.

Menurut warga yang dirahasiakan identitasnya ini, FN, kondisi di Delft saat ini sudah nyaris normal.

“Maksudnya kalau misalkan balik lagi ke awal, dulu banget, mungkin udah 90 persen normal, ya. Kayak aku datang itu ‘kan belum ada Covid-19, ya, terus ada Covid-19, dan sekarang udah new normal. Menurut aku sih sebenarnya sudah 80-90 persen udah normal,” bebernya kepada Pojokjabar.com, Rabu (8/7/2020).

Bedanya, katanya, meskipun normalnya memang normal yang baru tidak seperti sebelum pandemi Covid-19, karena dahulu tidak ada social distancing.

 

“Kayak jaga jarak itu ‘kan masih ada, ya. Kayak misalnya di jalan, nih, Sekarang kayak udah dipasang tulisan jaga jarak 1,5, di tempat umum, ya, kayak misalnya di station. Di stasiun-stasiun itu, mungkin kayak gini yang masih kebawa, masih ada aturannya. Pertama, jaga jarak. Jadi di Belanda ini tidak ada aturan harus pakai masker,” ujarnya perempuan berhijab ini.

Katanya, seperti itu bedanya di mana ada kekurangan dan kelebihannya. Saat ia mengobrol dengan temannya di Indonesia, katanya, jika di indonesia wajib pakai masker, hanya saja soal jarak kurang diperhatikan.

“Tapi di sini kebalikannya, gak pakai masker, tapi jarak diharuskan. Bahkan sampai ada di jalan-jalan misalkan, kalau kita nggak jaga jarak kita kena denda 400 Euro, itu waktu itu, ya, waktu pas kemarin Corona masih pas tinggi-tingginya di Belanda. Apa namanya? Jadi ada kelebihan kekurangan kalau menurut aku, kayak misalnya kita pakai masker tapi kalau dempet-dempetan dan gak jaga jarak resikonya juga ada, tapi nggak pakai masker tapi juga jaga jarak resikonya juga ada,” bebernya.

Sejak awal, katanya, tidak ada lockdown dari awal di Belanda. Sejak awal adanya kasus Covid-19, katanya, sempat ada penambahan kasus, namun warga di Belanda tidak mengalami kepanikan terkait adanya pandemi ini.

Lantaran pemerintahan di sana terpusat, katanya, juga terukur, dan detail memberikan informasi kepada masyarakat.

“Jadi, kalau misalkan sampai tanggal ini Coronanya masih banyak, berarti nanti akan ada tindak lanjut yang kedua. Kalau tinggal sedikit, nanti akan diturunkan siaganya. Itu terukur, dan lengkap,” ujarnya.

Aturannya itu, katanya, ada tiga skema. Pertama, katanya, social distancing biasa dan herd immunity.

“Jadi orang-orang terkena Corona dengan gejala ringan hingga sedang lama-lama akan terbentuk kekebalan tubuh sendiri, dan orang yang kena ini sewaktu sembuh akan menjaga, ounya kekebalan tubuh kelompok dan akan melindungi yang lebih lemah. Menurut aku itu beresiko banget, ya, karena sampai yang meninggal 5000, sekarang udah 6000. Jaadi skema pertama itu, skema kedua aku lupa, skema 3 lockdown total 1 tahun. Tapi kita gak sampai di situ. Skema pertama terhitung sudah berhasil, jadi mereka pakai pendekatan itu. Akhirnya April itu benar-benar banyak benget, dan bikin deg-degan juga. Tapi Mei mulai turun. Mungkin puncaknya April. Mungkin karena gak ada lockdown jadi cepet. Orangnya banyak kena, terus cepet turun lagi,” katanya panjang lebar.

Saat ini, katanya, sehari hanya ada puluhan kasus Covid-19. Dan yang meninggal, katanya hanya ada 1 orang.

“Aku jarang ngecek, sih, mba. Soalnya di sini itu iya emang Corona mengerikan, cuma aku melihatnya orang itu biasa aja, mungkin karena pemerintahnya membuat warganya gak panik, kitanya jadi terbawa, dan terukur, gitu. Jadi kalau pemerintah bilang A, warganya nurut,” katanya.

Warga yang tak taat aturan hanya sedikit persentasenya, katanya, lantaran akan ada denda besar jika melanggar. Jika melanggar, katanya, akan kena denda sekitar Rp5 juta per orang.

“Iya, pemerintah di sana memberikan bantuan. Tapi, kalau ke mahasiswa nggak. Misalnya yang punya kerjaan kayak punya cafe itu ‘kan tutup, nah, itu dapat bantuan, yang wirausaha. Gak tau yang lain,” katanya.

Jumlah bantuannya, katanya, sekitar 80 juta Euro. Namun, harus memenuhi syarat. Baginya, hal itu wajar lantaran negara maju dan memiliki pajak besar. Warga justru akan protres jika tidak ada bantuan.

“1 Juli ini semua sudah New Normal banget, semua udah dibolehin. Nah, perdana menteri ini (saat konpres, red) bilang detail sampai ke pekerja seks sudah boleh (beroperasi). Itu saking detailnya, pekerja seks aja sampai disebut. Dan itu ‘kan legal di sana, maksudnya itu dibolehin, jadinya waktu pidato orang biasa aja. Cuma aku yang orang Indonesia kayak gitu kayak tabu banget, gitu, jadi waktu itu mereka kehilangan pendapatan karena dilarang. Gak tahu di belakang,” curhatnya.

Belanda saat ini sudah New Normal, katanya, dan saat lebaran ia mengaku sempat berkumpul dengan kawan-kawan Indonesia di sana.

“20 orangan ada, di rumah temen, tapi di halaman, waktu itu ada pak polisi datang, ternyata bukan rame-ramenya, tapi karena ribut. Jadi ada tetangga gak suka, maksudnya ngerasa terganggu bisa lapor polisi, polisi yang negur. Gak langsung dia yang negor,” katanya.

Saat ini, katanya, warga di Belanda memakai masker saat di transportasi publik. Menurutnya, hal itu mungkin bentuk antisipasi agar tak ada gelombang kedua kasus Covid-19.

“Pakai masker malah kelihatan aneh. Aku kan pakai masker, terus aku pakai jilbab, jadi kayak pakai cadar ‘kan? Terus kadang dilihatin, terus aku jadi kayak nggak nyaman ‘kan? Orang-orang di sekitarku nggak pakai masker. Ya udahlah, aku juga nggak pakai masker. Pakai maskernya hanya di transportasi umum,” akunya.

Rata-rata orang yang memakai masker, katanya, hanya orang dari berbagai negara di Asia. Ia tidak mengetahui apakah karena budaya atau hal lainnya soal perbedaan penggunaan masker itu.

Terkait kondisi orang Indonesia di sana pada saat ini, ia mengaku kurang mengetahuinya, lantaran adanya privasi dan tertutup terkait hal itu.

“‘Kan privasinya orang Indonesia itu tinggi, ya. Pernah ada orang Indonesia se-Belanda kena (Covid-19), ada yang meninggal juga, kok. Tapi dia bukan mahasiswa atau kerja, tapi orang yang tinggal di sini. Aku malah tahunya dari berita di Indonesia. Kalau di sini tertutup,” katanya.

Ia mengaku bahwa di Belanda pemerintahnya jujur dan terbuka menyebutkan bahwa negara sudah membaik, hanya warga perlu tetap waspada akan datangnya gelombang kedua kasus Covid-19.

“Di sini pemerintahnya tuh jujur. Kalau negara lagi gak stabil mereka bilang ke warganya. Jadinya masyarakatnya sudah ngerti. Mungkin karena semua datanya bisa diakses juga ‘kali, ya, jadinya kalau mereka bohong pun bakal ketahuan juga,” tandasnya.

Perlu diketahui, Pemerintah Indonesia kini menyebut penularan Virus Corona masih terjadi di masyarakat, Rabu (8/7/2020).

Kasus Covid-19 di Indonesia kembali bertambah.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto saat dalam konferensi pers dari Graha BNPB pada Rabu sore menyampaikan bahwa berdasarkan data pemerintah hingga Rabu pukul 12.00 WIB, ada penambahan 1.853 kasus baru dalam 24 jam.

Penambahan itu menyebabkan kini ada 68.079 kasus Covid-19 di Indonesia, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.

“Kami dapatkan kasus konfirmasi positif sebanyak 1.863 orang, sehingga total menjadi 68.079 orang,” ujar Yurianto.

(mar/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds