Banjir Ulama di Tasikmalaya, Sebut 2019 Ganti Presiden Langsung Ditelpon Intel Polisi

Mudzakarah Seribu Ulama dan Kongres Mujahidin Ke-5 di Gedung Aisyah, Tasikmalaya, Minggu (5/8/2018)./Foto: Rmol

Mudzakarah Seribu Ulama dan Kongres Mujahidin Ke-5 di Gedung Aisyah, Tasikmalaya, Minggu (5/8/2018)./Foto: Rmol


SEDIKITNYA seribu ulama dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam Mudzakarah Seribu Ulama dan Kongres Mujahidin Ke-5 yang digelar di Gedung Aisyah, Jalan Ir. H. Juanda, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.

Kongres ini bakal berlangsung selama tiga hari pada 5-7 Agustus 2018.

Selain dihadiri seribu ulama, kongres ini juga dihadiri ribuan bpeserta yang berasal dari berbagai kalangan umat Islam dari berbagai daerah, tak terkecuali elemen organisasi masyarakat, Mahasiswa, penggiat masjid, santri dan lain-lain.

Baca: Kampanye Tagar 2019 Ganti Presiden Itu Kepentingan Politik Jalanan, Neno Potensial Timbulkan Perpecahan?

Ketua Pelaksana Mudzakarah Seribu Ulama dan Kongres Mujahidin Ke-5, Isa Ridwan mengatakan kongres diselenggarakan sebagai ajang silaturahmi para ulama dan pembinaan umat Islam.

Tema kongres yakni Peran Islam salam Menjaga Kedaulatan NKRI dan Kepemimpinan Islami dipilih untuk mengenang kembali jasa-jasa para ulama di masa lalu yang berkaitan erat dengan perjuangan bangsa Indonesia.

“Tema acara ini kita pilih dengan tujaun menyadarkan sekaligus menyegarkan kembali ingatan bangsa Indonesia dengan masa lalu yang barokah, perjuangan ulama dan keberadaan kalimat tauhid lailahailaallah dalam sila ketuhanan yang maha esa dalam Pancasila,” kata Isa.

Baca: Fadli Zon Nyinyir Bela Kaos Putih “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden”
Kongres ini bakal diisi kegiatan tabligh akbar dan mudzakarah.

Beberapa tokoh nasional direncanakan mengisi kegiatan ini termasuk di antaranya pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra dan Bachtiar Nasir.

Kongres juga bakal diisi dengan agenda pelatihan manajemen pengurus masjid.

Baca: PKS Bandung Barat Klaim Deklarasi #2019GantiPresiden Wajar tapi Singgung Gerakan Tagar Jokowi
“Kita terwakili dari Sabang sampai Merauke, dari Aceh dan Papua alhamdulillah perwakilan ulamanya ada di sini. Mudah-mudahan ini mewakili keragaman bangsa kita, baik dari suku, bangsa, etnis, tapi yang penting kita satu sebagai umat Islam,” lanjutnya.

Pembicaraan pada agenda tersebut salah satunya seputar 2019 ganti presiden muncul dalam pembukaan Mudzakarah Seribu Ulama dan Kongres Mujahidin Ke-5 yang diselenggarakan di Gedung Aisyah, Jalan Ir. H. Juanda, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Minggu (5/8).

Penyataan seputar topik ini dilontarkan Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Pusat, Irfan S. Awwas saat memberikan sambutan di atas panggung yang dihadiri ribuan massa.

Baca: Penolakan Massif Deklarasi #2019GantiPresiden di Bandung, Medsos Hingga Mahasiswa Bakal Dikerahkan

Di sela kata-kata sambutan yang ia sampaikan, Irfan sempat mengaku mendapat telepon dari intel kepolisian yang meminta agar isu 2019 ganti presiden tidak ditarik ke dalam arena kongres.
“Saya ditelepon intel kepolisian, tolonglah jangan bicara 2019 ganti presiden. Saya bilang bukankah kalau 2019 memang ganti presiden? Tidak akan ganti presiden kalau (Jokowi) terpilih lagi,” dia melanjutkan.

Pernyataan Irfan, lantas dibalas riuh rendah serta sorak sorai para hadirin yang tumplek sambil duduk dan berdiri di bawah areal panggung.

Baca: Aksi #2019GantiPresiden Dominan Provokasi Masyarakat, Banser Jabar Bakal Lakukan Ini

Selain ulama, kongres ini juga dihadiri ribuan peserta yang berasal dari berbagai kalangan umat Islam dari berbagai daerah, tak terkecuali elemen organisasi masyarakat, mahasiswa, pegiat masjid, santri dan lain-lain.

Dalam kesempatan yang sama, Irfan juga sempat membahas konsepsi NKRI yang menurutnya merupakan negara agama alih-alih negara sekuler.

Konsep tersebut menurutnya tercermin dari naskah pembukaan undang-undang dasar merujuk pada frasa atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa’, serta sila pertama Pancasila sebagai dasar negara yakni Ketuhanan yang Maha Esa.

Baca: Polisi Periksa 5 Saksi Teror Bom Molotov di Rumah Inisiator #2019GantiPresiden
“Jadi sejak awal negeri ini dibangun di atas rumusan agama, khususnya agama Islam, maka jika ada yang anti agama di negeri ini, mereka lah yang anti NKRI, merekalah yang sesungguhnya yang anti Pancasila, jangn dibalik. Dan orang orang yang cinta agama, mereka itu lah yang pancasilais, mereka itu lah yang sesuai dengan penjaga-penjaga NKRI, sekali lagi jangan dibalik,” kata dia.

Ketua Pelaksana Mudzakarah Seribu Ulama dan Kongres Mujahidin Ke-5, Isa Ridwan mengkalim tidak ada agenda politik tertentu yang hendak dihadirkan dalam kongres.

Dia menyatakan kongres tak punya kaitan langsung dengan gerakan 2019 ganti presiden.

Baca: Ada Kaitan Politik di Balik Pelemparan Bom di Rumah Penggagas #2019GantiPresiden?

“Tapi kalau secara tidak langsung, bisa jadi. Karena di situ ada juga pembahasan mengenai kriteria kepemimpinan berdasarkan agama Islam. Tapi kalau secara saklek ke Pilpres 2019, itu enggak ada kaitan. Kita lebih condong ke pembahasan kepemimpinan yang lebih umum,” tandasnya.

(nie/rmol/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds