POJOKJABAR.com, KARAWANG – Hobi memelihara burung perkutut ternyata bukan hanya soal menikmati suara merdunya. Di balik hobi ini, ada pelajaran hidup tentang kesabaran yang membuat banyak orang betah menekuninya.
Hal itu diungkapkan Kang Zhani, salah satu penghobi perkutut asal Karawang. Menurutnya, merawat perkutut mengajarkan seseorang untuk menikmati proses dan tidak terburu-buru mengharapkan hasil.
“Burung perkutut mengajarkan kita tentang kesabaran. Kita merawatnya dari nol sampai akhirnya bisa menghasilkan suara yang bagus. Saat mendengar suaranya, hati terasa tenang dan damai,” kata Zhani, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, filosofi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa komunitas perkutut terus berkembang di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Karawang.
Menariknya, anggapan bahwa perkutut hanya digemari orang tua kini mulai berubah. Saat ini banyak anak muda yang ikut terjun ke dunia perkutut dan aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas.
“Di perkutut tidak ada batasan usia. Anak muda, dewasa, orang tua sampai kakek-kakek semuanya ada dan aktif di komunitas maupun lomba,” ujarnya.
Selain menjadi ajang silaturahmi, komunitas perkutut juga menjadi tempat belajar mengenai teknik perawatan hingga sistem penilaian lomba.
Dalam perlombaan perkutut, penilaian utama berada pada kualitas suara burung. Terdapat beberapa kategori lomba seperti Lost Point, Cambas atau Campuran Bebas, serta kelas poin 300, 250 dan 200.
Zhani menjelaskan, pada kelas poin tertentu, suara burung harus mendekati angka yang telah ditetapkan.
“Misalnya kelas poin 300. Burung yang suaranya paling mendekati angka tersebut bisa menjadi juara. Kalau justru melebihi batas yang ditentukan, malah tidak masuk kategori juara,” jelasnya.
Untuk penghobi pemula, tersedia kelas Restart atau poin 100 yang menjadi tempat belajar sebelum naik ke kelas yang lebih tinggi.
Meski kegiatan lomba dan latihan bersama cukup banyak, Zhani menilai Karawang masih membutuhkan lapangan yang lebih representatif untuk menggelar event perkutut berskala besar.
Saat ini aktivitas komunitas perkutut banyak berkembang di wilayah Cilamaya, Cikalong dan Telagasari. Beberapa lokasi yang menjadi pusat kegiatan antara lain Pusaka Telagasari, PWC Cilamaya, Aprak Rawa Gempol, CBM Cilamaya dan PD Perkasa Karawang.
Selain itu, komunitas-komunitas kecil di tingkat lingkungan juga tetap aktif menggelar latihan bersama.
“Di daerah Plawad juga rutin ada latihan bersama untuk para penghobi lokal,” ungkapnya.
Bagi para penghobi, perkutut bukan sekadar burung peliharaan. Hobi ini menjadi sarana untuk belajar sabar, memperluas pertemanan dan menemukan ketenangan di tengah kesibukan sehari-hari. (Rohendi/Pojokjabar)
