Penelitian Buktikan Soal Keluhan Usai Sembuh dari Covid-19

Ilustrasi virus corona.  (pixabay)

Ilustrasi virus corona. (pixabay)


POJOKJABAR.com– Gejala dan dampak berbeda akan dirasakan sasaran yang terserang Virus Corona.

Ada yang tanpa gejala dengan imunitas yang kuat lalu cepat sembuh.

Namun tak jarang juga yang menderita tingkat keparahan cukup tinggi. Bahkan, penelitian membuktikan bahwa dampak Long Covid atau keluhan usai sembuh dari Covid-19 bisa dirasakan pasien selama berminggu-minggu.

Penelitian yang dipresentasikan di European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases Conference on Coronavirus Disease (ECCVID) akhir bulan ini, menyarankan, mereka yang terkena dampak tersebut untuk ikut studi lebih lanjut dan dilakukan intervensi dini. Penyakit virus ini bisa bertahan lama meskipun pasien dinyatakan pulih.

Pada Juli, sebuah penelitian di rumah sakit Italia menemukan bahwa 87 persen pasien yang pulih masih menderita setidaknya satu gejala atau keluhan selama 60 hari setelah jatuh sakit. Kelelahan dan kesulitan bernapas adalah keluhan yang paling umum.

Peneliti dari King’s College London memperkirakan, satu dari 10 orang yang disurvei masih mengalami gejala setelah 30 hari. Bahkan beberapa pasien belum sehat betul setelah berbulan-bulan. Bukti Long Covid seperti kelelahan adalah salah satu efek samping yang sering dilaporkan.

“Studi ini menyoroti bahwa kelelahan dialami baik pada pasien yang dirawat di rumah sakit maupun pada mereka dengan gejala awal yang lebih ringan,” kata Peneliti Dr Michael Head, dari University of Southampton, seperti dilansir dari The Straits Times, Minggu (20/9).

“Meningkatnya keluhan Covid yang berkepanjangan menjadi penting untuk mengurangi penularan komunitas, bahkan di antara kelompok orang yang lebih muda yang tidak langsung sakit parah,” tambahnya.

Begitu juga penelitian di Irlandia. Lebih dari separuh pasien dan staf yang menderita Covid-19 di rumah sakit di Irlandia menderita kelelahan yang terus-menerus setelah sembuh menurut sebuah studi terbaru Jumat (18/9). “Sementara ciri-ciri yang muncul dari infeksi Sars-CoV-2, memiliki konsekuensi jangka menengah dan jangka panjang dari infeksi. Dan sampai kini masih belum dieksplorasi,” kata Peneliti Dr Liam Townsend, dari Rumah Sakit St James dan Institut Kedokteran Translasional Trinity di Trinity College Dublin .

Studi tersebut melacak 128 peserta di Rumah Sakit St James, menemukan, 52 persen melaporkan kelelahan terus-menerus setelah pemulihan klinis dari infeksi, terlepas dari seberapa serius infeksi awal mereka. Studi pendahuluan yang belum dilakukan peer review ini melibatkan 71 orang yang dirawat di rumah sakit.

Dengan 57 karyawan rumah sakit yang sakit ringan. Usia rata-rata adalah 50 tahun dan semua peserta memiliki tes Covid-19 positif yang dikonfirmasi.

Para peneliti mengamati berbagai faktor potensial, termasuk tingkat keparahan penyakit awal dan kondisi yang sudah ada sebelumnya, termasuk depresi. Mereka menemukan bahwa tidak ada bedanya apakah pasien dirawat di rumah sakit atau tidak.

Namun, mereka menemukan bahwa perempuan menyumbang dua pertiga dari mereka yang kelelahan (67 persen). Mereka yang memiliki riwayat kecemasan atau depresi sebelumnya juga ditemukan lebih mungkin mengalami kelelahan.

Para penulis mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa lebih banyak upaya untuk menilai dampak Covid-19 pada pasien dalam jangka panjang.

“Kesimpulannya temuan kami menunjukkan beban yang signifikan berupa kelelahan pasca sembuh pada individu dengan infeksi Sars-CoV-2,” tandasnya.

(jpc/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds