Dianggap Istri Sah di China, Jangkar PSI Ungkap Proses Pemulangannya

Korban perdagangan manusia (ilustrasi).

Korban perdagangan manusia (ilustrasi).

POJOKJABAR.com, PURWAKARTA– Sebanyak sembilan (9) korban human trafficking (perdagangan manusia, red) di China, proses pemulangannya dibantu Jaringan Advokasi Rakyat Partai Solidaritas Indonesia (Jangkar PSI).

Empat di antaranya merupakan warga Kabupaten Purwakarta.

D dan Y, warga Kecamatan Purwakarta, serta M dan E, warga Kecamatan Jatiluhur, sebelumnya telah menjadi korban nikah paksa di Hainan dan Anhui, China.

Para korban tersebut dijebak dengan iming-iming uang dan pekerjaan.

Belasan perempuan itu, diduga dibeli melalui perantara mafia.

mafia ilustrasi

ilustrasi

 

Bahkan korban dihargai dengan harga yang sangat fantastis, mencapai Rp 400 juta per orangnya.

Dalam keterangannya, Ketua DPD PSI Kabupaten Purwakarta, Agus Sanusi mengatakan, proses pemulangan memakan waktu yang agak lama.

Menurutnya, proses pemulangan tersebut bisa mencapai satu tahun dan menyulitkan, karena para korban ini seluruhnya telah dinikahkan dengan para pembeli.

Human Trafficking

Human Trafficking

 

Akibatnya, lanjutnya, proses hukum pun menjadi gamang. Hal ini karena secara hukum yang berlaku mereka adalah istri sah dari para pembeli.

“Saya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu kepulangan para korban, terutama kepada Presiden Jokowi, Kementerian Luar Negeri dan pihak pihak terkait, khususnya Habib Muannas selaku kuasa hukum dan Jangkar Solidaritas yang mengawal kasus ini sampai selesai,” kata Agus kepada wartawan, Rabu (11/9).

Menurutnya, kasus ini prosesnya sendiri cukup panjang berlangsung hampir 1 tahun. Namun, atas kerja keras berbagai pihak, akhirnya para korban bisa pulang.

Human_trafficking

Ilustrasi

 

“Ke depannya saya berharap tidak ada lagi WNI, khususnya masyarakat Purwakarta yang jadi korban,” katanya.

Pemerintah, lanjutnya, dalam hal ini harus melakukan upaya-upaya preventif untuk mencegah kejadian serupa.

“Apalagi mengingat cukup banyak masyarakat Purwakarta yang bekerja di luar negeri,” demikian Agus Sanusi.

(adw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds