Meski Tak Lagi Muda, Pasangan Jamaah Haji Purwakarta Selesaikan Prosesi Haji

Pasangan jamaah haji asal Purwakarta./Foto: Ega

Pasangan jamaah haji asal Purwakarta./Foto: Ega

POJOKJABAR.com, PURWAKARTA– Meski sudah tidak berusia muda, beberapa jamaah haji asal Jawa Barat bisa menyelesaikan rangkaian ibadah haji dan pulang dengan selamat ke tanah air.

“Alhamdulilah sehat wal’afiat sampai rumah, cuma pake tongkat, mungkin kecapean jalan,” ucap salah satu jamaah haji asal Purwakarta, Tati Suhali.

Sementara, suaminya, Agus Komar, aktif menjadi ketua rombongan selama pelaksanaan ibadah haji.

Setelah keduanya tiba dari Kampung Citenjo, Desa Cimahi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, tamu datang tidak berhenti.

Menurut Nug, warga setempat, hal ini menjadi budaya di kampungnya.

Hj Tati Suhali

Hj Tati Suhali./Foto: Ega

 

“Di kampung kadang budayanya bikin ribet. Ada yang tulus jenguk, ada yang modus minta oleh-oleh,” katanya.

Datangnya tamu seperti ini, katanya, bisa sampai minimal sepekan.

“Minimal sepekan,” tandasnya, Rabu (21/8/2019) malam.

Tamu kunjungi jamaah haji Purwakarta selepas haji

Tamu kunjungi jamaah haji Purwakarta selepas haji./Foto: Ega

 

Sebelumnya diberitakan di Pojokjabar.com, jamaah haji yang wafat di tanah suci Mekkah bisa masuk kategori syuhada atau meninggal dalam keadaan syahid.

Demikian dikatakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Rachmat Syafei.

Menurutnya, semua jemaah haji yang wafat di Tanah Suci bisa saja masuk dalam kategori mati Syahid.

Agus Komar-Tati Suhali, pasangan jamaah asal Kampung Citenjo, Desa Cimahi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta./Foto: Istimewa

Agus Komar-Tati Suhali, pasangan jamaah asal Kampung Citenjo, Desa Cimahi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta./Foto: Istimewa

 

Asalkan, kondisi jemaah ketika wafat sedang dalam melaksanakan ibadah.

“Artinya bukan syahid sedang melaksanakan perang, karena sedang melaksanakan ibadah, Jadi mempunyai nilai tersendiri,” ungkap Rachmat saat ditemui di kantornya, Jalan Riau, Kota Bandung, Rabu (21/8).

Rachmat mencontohkan, salah satu kejadian puluhan jemaah haji asal indonesia yang wafat saat melaksanakan ibadah, yaitu pada saat tragedi terowongan Mina tahun 2015.

 

Kala itu, tercatat lebih dari 50 orang jamaah haji indonesia meninggal dunia.

“Misalnya dulu pernah kasus Mina di terowongan itu mati syahid, karena sedang ibadah,” ucap Rachmat.

Kendati demikian, Rachmat mengatakan, jika jemaah haji wafat dalam keadaan tidak sedang beribadah.

 

Hal tersebut tidak termasuk kategori mati syahid.

“Tapi kalau yang dipondokan meninggal itu bukan syahid,” tutur Rachmat. Rachmat menambahkan, sebenarnya secara fasilitas dan pelayanan sudah baik.

Oleh karena itu, dirinya memperkirakan puluhan jamaah haji asal Jawa Barat yang meninggal di tanah suci, murni karena sakit atau sudah berumur tua.

“Pengalaman yang ada sakit itu yang paling umum adalah sudah tua, faktor umur, yang disebut resti (resiko tinggi),” pungkas Rachmat.

(mar/ega/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds