Penari Asal Depok Curhat Hoaks Covid-19, Praktisi Kesehatan Ingatkan Nasionalisme

Tangkapan layar Ratri Anindyajati saat mengisi webinar tentang Stigmatisasi Terhadap Penderita Covid-19 dan Tenaga Medis, Jumat (23/10/2020)

Tangkapan layar Ratri Anindyajati saat mengisi webinar tentang Stigmatisasi Terhadap Penderita Covid-19 dan Tenaga Medis, Jumat (23/10/2020)


POJOKJABAR.com, DEPOK– Ratri Anindyajati, seniman tari asal Kota Depok membeberkan kekagetannya atas berita hoaks terkait Virus Corona menyebar di Indonesia hingga ratusan pada saat ia baru keluar dari rumah sakit.

“Kemarin ingat juga waktu baru-baru awal keluar dari rumah sakit diajak webinar dengan salah satu staff dari kementrian komunikasi,” ujarnya.

Ia diceritakan saat pekan kedua bulan Maret lalu ada sekitar 300 lebih berita hoaks yang mereka tangkap.

“Pas aku denger itu sempet kaget, ya, itu beredarnya di Indonesia,” kata perempuan yang pintar menari ini.

 

Ia heran mengapa terjadi hal seperti itu, karena pada saat itu semua sedang chaos, tidak tahu mana informasi yanbg benar.

“Tapi banyak juga cerita masyarakat, karena orang-orang sekarang di Indonesia ‘kan habbit-nya memakai WhatsApp lalu gambar share informasi. Sebetulnya dari masyarakat sendiri tidak bisa meminta media melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan etis, atau dengan apa itulah namanya,” bebernya seniman tari asal Kota Depok ini.

Karena, katanya, sumber informasi juga banyak, dan mungkin juga semua informasiyang diterima tidak bisa diperiksa kebenarannya kembali.

“Sebenarnya masyarakatnya sendiri yang punya tanggung jawab masing-masing. Yang mana yang bisa mereka baca, yang mana yang mereka akan bagi ke keluarga,” katanya.

 

Menurutnya, setiap individu memiliki peran mengambil peran melindungi diri dan keluarganya dari apapun itu di saat pandemi global di mana informasi beredar banyak sekali.

“Aku gak mau menyalahkan satu pihak atau dua pihak, intinya kalau jaga diri kita itu garda terdepan untuk jaga mental, fisik kita, dan imun kita masing-masing. Itu aja sih tanggung jawab masing-masing,” bebernya.

Perempuan cantik yang pernah menjadi pasien 03 Virus Corona ini pun tak menyangka hidupnya berubah setelah terpapar Virus Corona yang sedang mengguncang dunia.

Ia terkonfirmasi positif Covid-19 usai adiknya dan sang ibu sudah lebih dulu terkonfirmasi sebagai pasien 01 dan 02 positif Covid-19.

 

Kemudian, pada 2 Maret 2020, ia mengaku sempat bingung dan merasakan beban psikis yang tinggi saat mendengar dua anggota keluarganya lebih dulu tertular Covid-19.

Ia tambah syok lantaran mengetahui bahwa Covid-19 merupakan penyakit baru yang belum diketahui bentuk dan cara pengobatannya.

“Di samping harus mengatasi tekanan dari berita itu (menjadi pasien positif bersama adik dan ibu) rumah kita dalam beberapa jam dikepung sama media. Sampai orang rumah nelepon aku gak boleh pulang karena tiba-tiba privasi kita terbuka,” kata Ratri dalam webinar tentang Stigmatisasi Terhadap Penderita Covid-19 dan Tenaga Medis, Jumat (23/10/2020).

Selain mengalami situasi tersebut bagi diri dan keluarga, Ratri mengaku lebih kecewa oleh banyak informasi ngawur tentang kehidupan pribadi ia dan keluarganya di mata publik.

 

Profesinya sebagai seniman, khususnya penari, membuatnya dan keluarganya mendapatkan penghakiman di lini masa usai identitas dibuka dan terkonfirmasi positif Covid-19.

Terangnya, tak sedikit hujatan ia dan keluarga terima karena dinilai menjadi penyebab adanya Covid-19 di Tanah Air.

Ia tak menyangka stigma negatif tersebut kuat kepada para pasien positif Covid-19 saat itu.

Saat itu, aku Ratri, kondisi klinis ibu dan adiknya sudah membaik. Begitu ada pernyataan ofisial positif Covid-19 di Indonesia dan identitas mereka terbuka, berbagai serangan dan hujatan warganet semakin banyak ia dan keluarga dapati.

 

“Kita lihat banget mental distress yang Sita rasakan langsung membuat keadaan fisiknya turun lagi. Waktu itu kita harus benar-benar fokus menguatkan mental Sita supaya dia gak mikirin serangan-serangan dari netizen dan pemberitaan dari media yang juga waktu itu kita sampai bingung kenapa tidak ada yang akurat,” katanya.

“Sebenernya aku bilang, aku baik-baik aja. Waktu itu aku ngerasa sudah sehat tapi virusnya masih ada di tubuhku. Ibu pun sudah sehat, tinggal menunggu paru-parunya recovery lagi. Jadi yang lebih harus ditangani secara mental dan emosional itu secara psikis karena hujatan-hujatan dan stigma dari orang-orang yang gak kita kenal,” katanya.

Pihaknya menyayangkan berbagai informasi pemberitaan yang sempat simpang siur terkait informasi yang sebenarnya tentang kondisi mereka.

“Contoh, orang (pasien positif Covid-19 yang berasal dari Jepang) itu kita gak kenal tapi ada pemberitaan yang mengatakan WNA Jepang itu teman dekat pasien 01, sering menginap di rumah dan ada asumsi publik itu laki-laki. Padahal orang itu perempuan dan pekerjaannya pengajar tarik latin dan Afrodance,” katanya.

 

Keluarganya menjadi korban praktik tidak etis, dan ia berharap ada penyampaian informasi hingga perlakuan yang tidak menggiring stigma negatif dan ngawur kepada para pasien Covid-19.

Ia pun berharap masyarakat bisa memperluas literasi agar tidak menciptakan stigma negatif tersebut.

“Oke, satu, kita sudah terbuka di publik bukan atas keinginan izin kita. Oh tapi ya udah deh terlanjur mau gimana lagi. Tapi sesudah itu nilai privasi kita terus masih didorong terus (agar terbuka) padahal saat itu kami masih diisolasi,” katanya

Ratri sempat tak menampik bahwa dirinya keberatan dengan publikasi informasi dan kehidupan privasi keluarganya.

Banyak pihak dan keluarganya yang menawarkan agar ada dukungan secara hukum agar privasinya dijaga.

 

Dengan berbagai informasi simpang-siur dan stigma negatif yang masih bergulir, ia mengaku tak bisa berbuat banyak.

“Tentunya keberatan dan pas sampai rumah, aku pulang ke rumah khawatir alamat kita ada di mana-mana (tersebar luas). Orang-orang tanggung jawabnya gimana, kita kan gak tau ada yang berpikiran apa. Ada kok yang sampai bilang ‘kita tahu rumah kalian lho, Sita’ di Instagram,” katanya.

Saking buruknya stigma yang melekat kepada pasien positif Covid-19 saat itu, katanya. ada banyak ancaman yang dilayangkan warganet kepada keluarganya.

Ia sempat mengalami ketakutan secara berlebihan dan ketiadaan informasi yang memadai.

 

Ada masyarakat bereaksi berlebihan terhadap mereka yang terpapar virus Covid-19.

“Ada yang bilang ‘kita datengin, kita tahu rumah kalian’, ‘kita mau dateng nyuntikin virus ke kalian supaya mati’ karena banyak orang yang gak percaya mendoakan kita bener-bener sakit nantinya. Sedihnya juga itu mikir kayak ‘gila sistem pendidikan Indonesia itu sampai mana sih kok masyarakat kita bisa kayak begini?” ujar Ratri.

 

Tangkapan layar Praktisi Kesehatan, Lula Kamal saat mengisi webinar tentang Stigmatisasi Terhadap Penderita Covid-19 dan Tenaga Medis, Jumat (23/10/2020)

 

Sementara, menanggapi potret stigmatisasi negatif terhadap positif Covid-19, Praktisi Kesehatan, Lula Kamal mengatakan bahwa saat awal kemunculan pertama kasus positif Covid-19, diskriminasi terhadap pasien positif Covid-19 memang sangatlah tinggi.

Kata Lula, saat awal kemunculan Covid-19 Indonesia dan tenaga kesehatan belum siap lantaran Indonesia masih kaget dengan kehadiran Covid-19.

Akhirnya ada banyak kekacauan karena Covid-19 menyerang mendadak meski kasus kemunculan Covid-19 di dunia sudah ada sejak akhir Desember 2019.

“Waktu itu saat kejadian di Jakarta, mestinya daerah lain sudah harus belajar dari Jakarta. Daerah lain tidak belajar cepat dari adanya kasus kemunculan pertama di Jakarta… Yang paling sering kejadian karena lengah atau abai itu,” kata Lula.

Pihaknya mengajak masyarakat dan setiap rumah ada pemahaman terkait sumber potensi penularan.

Menurut Lula, hal paling mudah adalah siapa anggota rumah yang sering keluar rumah karena akan menjadi sumber potensi tinggi penularan.

Ia meminta masyarakat jangan abaikan protokol kesehatan demi menghindari lingkungan keluarga sebagai lingkungan terkecil di masyarakat tidak menjadi sumber penularan Covid-19.

“Lebih luasnya lagi, pahlawan yang berkontribusi paling besar sebenarnya masyarakat karena yang efektif memutus rantai penularan Covid-19 adalah masyarakat. Pemerintah cuma bikin kebijakan dan aturan, tenaga kesehatan cuman bantu untuk mengobati yang sakit, tapi sebetulnya pahlawan yang paling besar,ujung tombaknya masyarakat sendiri,” ujarnya.

 

Selain itu, ia pun mengaku bahwa terkait informasi Covid-19 ini, pihaknya mengerti tak ada yang pasti bisa menyelesaikan permasalahan, sehingga banyak jurnalis yang dirangkul agar lebih banyak menceritakan terkait informasi Covid-19 ini.

“Barangkali ada yang modelnya menakut-nakuti, persuasi, silahkan, gitu, ya, karena saya yakin masyarakat juga berlapis-lapis, kubu yang berbeda-beda,” katanya.

Tapi yang kedua, katanya, hati-hati dalam memberikan judul. Hal itu lantaran menurutnya orang Indonesia seringkali membaca tidak sampai isi, melainkan hanya judul berita saja.

“Kalau bisa judulnya jangan sampai bisa multitafsir. Ini salah, orang bisa menelannya bulat-bulat,” katanya.

Hal ketiga, imbuhnya, mengenai protokol kesehatan, kita semua tak bisa mengingatkan orang untuk menjadi orang lain. Barangkali sudah harus mengajak masyarakat untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia.

“Kita harus menimbulkan rasa kebangsaan.bahwa memang capek pakai masker, memang tidak enak pakai masker, memang tidak enak berjauhan, memang repotnya kita berkali-kali. Tapi ini saya lakukan untuk Indonesia,” imbuhnya.

Menurutnya, jadi setiap orang bisa memiliki peran untuk Indonesia. Barangkali kita semua bisa membangkitkan rasa nasionalisme atau kebangsaan ini agar semua pihak tak lagi ragu untuk melaksanakan protokol kesehatan.

(Ega/pojokjabar/adv)

Loading...

loading...

Feeds