Tito Karnavian ‘Jewer’ Gugus Tugas Depok

Menteri Dalam Negeri Repuplik Indonesia, Tito Karnavian didampingi Walikota Depok, Mohammad Idris dan Ketua DPRD Kota Depok T.M Yusuf Saputra memberikan keterangan kepada awak media dalam rangka Launching Gerakan 2 Juta Masker di Kantor Kecamatan Tapos, Kamis (13/8).

Menteri Dalam Negeri Repuplik Indonesia, Tito Karnavian didampingi Walikota Depok, Mohammad Idris dan Ketua DPRD Kota Depok T.M Yusuf Saputra memberikan keterangan kepada awak media dalam rangka Launching Gerakan 2 Juta Masker di Kantor Kecamatan Tapos, Kamis (13/8).


Tito mengatakan, pemerintah daerah tidak cukup hanya melakukan passive testing selama pandemi Covid-19. Pasif dalam arti melakukan tes Covid-19 terhadap orang yang sudah bergejala saja. Seharusnya, yang dilakukan adalah agresif atau proactive testing. Artinya, melakukan tes secara acak dari penduduk di satu wilayah ke penduduk di wilayah lainnya. Jika suatu daerah sudah melakukan aggressive testing, kata Tito, barulah akan tergambar kondisi Covid-19 di daerah tersebut.

“Kalau seandainya itu adalah passive testing, itu enggak menggambarkan, dia hanya menggambarkan puncak gunung es,” kata Tito.

“Kalau dia aktif, proactive testing, agresif dan jumlahnya di atas 5 persen, nah itu bisa menggambarkan keadaan sebenarnya dari angka positif atau tidak di Depok,” ujar dia.

Tito mengatakan, tak bermaksud mengecilkan hati Idris sebagai Walikota Depok. Dia yakin walikota sudah berusaha keras menangani pandemi. Namun demikian, Tito ingin mendorong supaya tes Covid-19 di wilayah Depok dapat menjadi masif. Tito pun menyarankan, agar Pemerintah Kota Depok bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti universitas, untuk mendorong Depok lebih banyak melakukan tes Covid-19.

Hal ini penting, kata Tito, untuk mengambil kebijakan yang tepat dalam menghadapi pandemi.

“Gunanya apa, supaya kita bisa tahu siapa yang positif, negatif, segera untuk kita lakukan karantina, dipisahkan,” ujar Tito.

“Yang kedua kita bisa melakukan penyerangan lebih agresif di daerah itu. Penyerangan apa? Ya mulai hidup sehat, kemudian penerapan protokol,” kata dia.

Tak sampai disitu, Tito juga kembali ‘menyentil’ Walikota Depok Mohammad Idris yang mengenakan masker N95 saat hadir dalam acara Gerakan dua Juta Masker. Di hadapan Idris, Tito menyebut bahwa masker N95 semestinya diperuntukkan bagi tenaga medis karena jumlahnya terbatas. Hal itu disampaikan Tito ketika menyinggung jenis-jenis masker yang digunakan untuk mencegah penularan virus.

“Masker ini macam-macam, masker yang dipakai Pak Wali itu N95, fine itu terbaik. Tapi saran dari beberapa ahli, karena terbatas, sebaiknya digunakan tenaga medis yang berhadapan dengan yang positif,” kata Tito dipantau melalui siaran langsung YouTube Kemendagri.

Dalam kesempatan tersebut, memang Walikota Depok Mohammad Idris melaporkan data update per 11 Agustus yang di nilai sudah lebih baik dari sebelumnya.

“Status resiko saat ini dengan skor 1 point 86, yang sebelumnya skor 1 point 71. Jadi sudah menjadi zona oranye yang sebelumnya Depok menjadi zona merah. Di Depok juga tingkat kesembuhan semakin meningkat, dan angka kematian lebih rendah dari nasional,” jelasnya.

Terkait gerakan bermasker, dia juga mengapresiasi Presiden atas perhatian yang diberikan di setiap wilayah Indonesia.

“Karena memang masih kurangnya kesadaran dan kedisplinan masyarakat dalam bermasker. Untuk itu, kami menggunakan jaringan yang ada, tidak hanya aparatur, TNI, Polri tetapi juga seluruh Ormas, komunitas hingga pemangku kepentingan,” ucapnya.

Jika dilihat dari geografi dan biografi potensi untuk terjadi penularan kota Depok sudah 2,4 juta warganya.

“Tentu ini perlu jadi perhatian warga khususnya Kota Depok, karena harus lebih ekstra untuk melakukan berbagai pencegahan penularan Covid-19,” jelasnya.

(RD/tul/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds