Tito Karnavian ‘Jewer’ Gugus Tugas Depok

Menteri Dalam Negeri Repuplik Indonesia, Tito Karnavian didampingi Walikota Depok, Mohammad Idris dan Ketua DPRD Kota Depok T.M Yusuf Saputra memberikan keterangan kepada awak media dalam rangka Launching Gerakan 2 Juta Masker di Kantor Kecamatan Tapos, Kamis (13/8).

Menteri Dalam Negeri Repuplik Indonesia, Tito Karnavian didampingi Walikota Depok, Mohammad Idris dan Ketua DPRD Kota Depok T.M Yusuf Saputra memberikan keterangan kepada awak media dalam rangka Launching Gerakan 2 Juta Masker di Kantor Kecamatan Tapos, Kamis (13/8).


POJOKJABAR.com, DEPOK – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC) Kota Depok, dikritik habis Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Kamis (13/8/2020). Mantan Kapolri ini detail mengkoreksi setiap langkah GTPPC Depok, dalam menangani Virus Korona (Covid-19). Contoh terkecil, soal buah anggur yang menjadi sajian. Kemudian dilanjut terkait angka positivy rate.

“Saya memberikan penghargaan kepada Walikota Depok, sadar atau tidak sadar buah yang disediakan itu benar. Berkulit seperti salak, pisang. Cuma ada satu yang ingin saya protes, itu ada anggur, anggur itu tidak berkulit kalau yang menyiapkan itu positif, virusnya menempel dan langsung kami makan itu akan menyebarkan,” sindir Mendagri, Tito Karnavian saat melaunching Gerakan 2 Juta Masker di Kantor Kecamatan Tapos, Kamis (13/08).

Depok itu, kata Tito, kepadatan penduduknya dua juta-an, sangat tinggi. “Tumplek” kalau bahasa betawinya. Selain itu juga, batas geografi menjadi penyebabnya. Karena Depok tidak ada batasan alam dengan wilayah yang ada di sekitarnya. Sangat imposible jika Depok dapat menyelesaikan permasalahan ini sendiri. “Harus ada kebijakan dan keserempakan dengan wilayah sekelilingnya,” ucap pria bertitel Profesor ini.

Purnawirawan Kapolri ini terus mencecar permasalah penanganan Covid-19. Tito mempermasalahkan angka positivy rate yang di nilai Walikota Depok Mohammad Idris sudah menurun. Bagi dia, itu belum sesuai dengan jumlah penduduk Depok yang sekitar dua juta orang.

“Tadi Bapak mengatakan positif rate sekian, ada kemajuan dan sudah menjadi zona oranye. Nanti dulu, saya mau tanya sampelnya berapa? 6.578. Jumlah penduduknya berapa? Hampir dua juta. Maka 6.578 per dua juta ketemunya 0,03 persen. Artinya yang dijadikan sampling 0,03 persen, rendah sekali, itu belum menggambarkan populasi,” ujarnya.

Jika jumlah 6.578 masyarakat yang sudah melakukan pemeriksaan Swab, dibagi dengan jumlah hari sejak Maret, maka perharinya hanya sekitar 39 orang yang melakukan pemeriksaan swab.

Loading...

loading...

Feeds