Cegah Ketergantungan, Angkutan Alternatif KRL Commuter Line Diluncurkan Agustus

Sejumlah penumpang KRL Commuter Line berada di area Stasiun Depok Lama, Kecamatan Pancoranmas.

Sejumlah penumpang KRL Commuter Line berada di area Stasiun Depok Lama, Kecamatan Pancoranmas.


POJOKJABAR.com, DEPOK – Masyarakat pelaju Bogor-Jakarta diharapkan pada Agustus 2020 sudah dapat memanfaatkan angkutan alternatif reguler, agar tidak hanya tergantung pada KRL. Sebagaimana diketahui menyusul pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru sering terjadi lonjakan penumpang KRL pada waktu-waktu tertentu.

Sementara kapasitas penumpang KRL selama masa pandemi dibatasi maksimal 35-45 persen untuk memenuhi ketentuan physical distancing, yang mengakibatkan seringnya terjadi penumpukan penumpang.

Saat ini pemerintah mengerahkan bus-bus gratis untuk mengangkut para pelaju yang tak tertampung KRL tersebut, meski cukup mampu mengatasi penumpukan penumpang penyediaan bus gratis tersebut tidak mungkin menjadi solusi tetap.

“Sejak awal kami meluncurkan bus gratis tersebut pada 15 Mei 2020, sudah kami informasikan bahwa jika kebutuhan terus meningkat dan muncul demand yang konsisten. Tidak menutup kemungkinan akan kami luncurkan layanan bus reguler,“ jelas Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Polana B. Pramesti.

Dari evaluasi yang dilakukan, menurut Polana memang potensi demand ada, dan saat ini sedang dilakukan kajian untuk memperkuat rencana peluncuran layanan tersebut.

“Bentuk layanan nantinya adalah Bus Jabodetabek Residential Connexion (JR Conn) dengan rute point to point,“ kata Polana.

Sifat layanan Bus JR Conn ini titik pemberangkatan bukan dari Terminal Bus. Namun diupayakan dari titik yang lebih terjangkau dari pemukiman calon penumpang (asal) menuju titik tertentu (tujuan) di Jakarta, dengan demikian diharapkan tidak terjadi penumpukan calon penumpang di stasiun ataupun terminal.

Menurut Polana sudah ada perusahaan operator yang bersedia mengisi layanan reguler ini, dan saat ini sedang melakukan berbagai persiapan.

“Mengingat trayek yang dijalani layanan ini adalah lintas wilayah administratif di Jabodetabek maka perizinannya ada di BPTJ dan kami tentunya akan mempermudah perizinannya,” jelas Polana.

Mengenai tarif Polana menyebut tidak mungkin semurah tarif KRL, karena tarif KRL disubsidi Pemerintah. Tetapi diupayakan masih dalam batas kewajaran dan terjangkau oleh para pelaju. Menurut Polana nantinya layanan Bus JR Conn ini juga akan konsisten diterapkan protokol kesehatan sehingga kapasitas penumpang dibatasi maksimal 50 persen, agar ketentuan jaga jarak dapat dipenuhi.

”Aturan protokol kesehataan lainnya seperti pemeriksaan suhu tubuh, penggunaan masker tentu wajib tak hanya bagi pengguna namun juga awak operator, demikian pula unit armada yang digunakan secara rutin harus dibersihkan dengan disinfektan,“ pungkasnya.

(RD/rub/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds