Berbuntut Panjang, Pejabat Dishub Kota Depok yang Halangi Ambulans Dilaporkan ke BKPSDM

Beredar video rekaman mobil ambulan dihadang pengendara motor di Jalan Raya Sawangan, Kelurahan Rangkapanjaya Baru, Pancoranmas Depok, Sabtu (11/7/2020).

Beredar video rekaman mobil ambulan dihadang pengendara motor di Jalan Raya Sawangan, Kelurahan Rangkapanjaya Baru, Pancoranmas Depok, Sabtu (11/7/2020).


POJOKJABAR.com, DEPOK – Tindakan pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, Hindra Gunawan (HG) yang menghalangi ambulans berbuntut panjang. Pria yang menjabat Kasubag Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Dishub ini, akan dilaporkan ke Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) Kota Depok.

Kepala Dishub Kota Depok, Dadang Wihana mengaku, akan memeriksa HG, terkait insiden penghadangan mobil ambulan yang membawa pasien di Jalan Raya Sawangan, Sabtu (11/7/2020) lalu.

”Hari ini baru masuk, kami lakukan upaya mendengar seperti apa kronologinya, ditindaklanjuti, investigasi dengan interview,” kata Dadang saat dihubungi wartawan, Senin (13/7/2020).

Menurut Dadang, via telepon sudah kemarin (Minggu, 12/7), kebetulan baru ketemu hari ini. Saat ini mau dipanggil terlebih dahulu, seperti apa kronologinya. Hasil wawancara dan investigasi internal ini, rencananya akan menjadi bahan laporan HG ke BKPSDM Kota Depok.

Dadang menegaskan, BKPSDM yang punya kewenangan memutuskan tindakan terhadap HG. Sejauh ini, belum ada tindakan apa pun terhadap HG di internal Dinas Perhubungan Kota Depok.

”Nanti kronologinya disampaikan ke BKPSDM. Baru hari ini (kemarin) kami ketemu tatap muka, pendalaman, akan kami sampaikan terkait dengan kronologinya itu, sambil mengunggu BKPSDM mengambil langkah-langkahnya,” ujar Dadang.

Menurutnya, karena yang bersangkutan adalah pejabat struktural. Jadi, yang memiliki kewenangan menentukan seperti apa, harus melakukan investigasi, itu dari BKPSDM terkait hal ini.

Perlu diketahui, insiden pencegatan ambulan yang membawa pasien yang dilakukan HG viral di media sosial (Medsos). Masalah itu masih belum selesai, meskipun polisi mengklaim sudah ada kesepakatan damai antara HG dengan supir ambulan. Klaim itu dibantah supir ambulan.

Prioritas bagi ambulans membawa pasien di jalan raya telah diatur dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya, tepatnya Pasal 134 huruf b, bersama dengan 6 kendaraan prioritas lain.

Ada ketentuan sanksi bagi pengendara yang menghambat perjalanan ambulans membawa pasien dan 6 kendaraan prioritas tadi. Dalam Pasal 287 ayat (4) undang-undang yang sama, pengendara yang mengganggu kendaraan prioritas bersirine di jalan raya dikenakan ancaman kurungan maksimum 1 bulan atau denda maksimum Rp 250.000.

Supir Ambulan RS Mitra Keluarga, Slamet mengatakan, kejadian tersbeut bermula saat dia bersama tenaga medis RS Mitra Keluarga tengah membawa pasien ke rumah sakit. Saat berada di simpang Arco Rawa Denok, terjadi crash. Tidak jauh dari Perumahan BDN Kelurahan Rangkapanjaya Baru, terjadi senggolan.

“Senggolan dengan pengendara motor dan akhirnya terjadi keributan,” ujar Slamet kepada Harian Radar Depok (Gorup Pojoksatu), Minggu (12/7).

Slamet menjelaskan, saat kemacetan tersebut pihaknya berusaha membawa pasien secepat mungkin, untuk dilakukan penanganan ke rumah sakit. Saat kendaran ambulan mengambil jalur kanan, tidak dapat dilakukan karena sudah pas dengan kendaraan lain. Namun saat memaksa masuk ke kiri, kendaraan ambulan bersenggolan dengan kendaraan motor.

Saat terjadi perselisihan, pengendara motor tersebut ingin diprioritaskan setara dengan ambulan. Seharusnya ambulan menjadi prioritas sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Padahal, selama Slamet membawa ambulan, apabila tidak ada pasien, pihaknya akan membawa kendaraan tetap sama dengan kendaraan lain saat berada di jalan raya.

“Pengendara motor tersebut tidak mau mengalah dan tidak kasih jalan,” terang Slamet.

Bahkan, lanjut Slamet, saat ambulan berjalanan di kanan, pemotor mengikuti berada di sebelah kanan, begitupun sebaliknya. Selain arogansi, pemotor tersebut mengucapkan kata kasar, seperti goblok dan tolol.

Untuk memberikan pemahaman kepada pengendara motor tersebut, pihaknya membuka kabin ambulan dan semua masyarakat melihat bahwa didalamnya terdapat pasien. Selain itu, pengendara motor mengajak pihaknya untuk diperpanjang di Polres Metro Depok. Mengingat pihaknya membawa pasien, terlebih dahulu mengutamakan pasien.

“Kami lebih dahulu mengutamakan pasien yang kami bawa,” terang Slamet.

(RD/dic/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds