Siap-siap Kuota Jebol, Kegiatan Belajar di Rumah di Kota Depok Diperpanjang sampai 18 Desember

Ilustrasi. Ist

Ilustrasi. Ist


POJOKJABAR.com, DEPOK – Hari ini resmi tahun ajaran baru 2020 diberlakukan dari jenjang TK, SD, SMP dan SMA. Di Kota Depok, seluruh jenjang sekolah dilarang menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) via online (Daring). Tak main-main, lamanya PJJ hingga 18 Desember 2020. Panjangnya durasi berlajar online menelurkan masalah baru : kuota handphone (Hp) dan sarana penunjang.

Warga Sukmajaya, Suryadi mengatakan, pembelajaran secara online harus tetap berjalan. Hal itu, mengingat Pemerintah Kota Depok belum memberikan izin terkait sekolah secara tatap muka, karena belum memasuki zona hijau.

Namun, ditekankan dia. Peran serta dari orang tua sangat berpengaruh agar kegiatan belajar mengajar secara online dapat berjalan efektif. Dan seluruh pelajaran yang telah diberikan bisa di terima anak atau siswa. Kuota internet menjadi kendala dalam proses belajar online.

Pihak sekolah harus menerapkan dua metode belajar, yakni secara online maupun home visit. Tentunya atas pertimbangan dari sekolah, mana orang tua yang mampu atau tidak untuk memenuhi kuota sebagai kebutuhan utama belajar online.

“Tentu sekolah tau, latar belakan murid mana yang mampu dan mana yang tidak. Jadi tinggal tentukan murid mana yang dilakukan belajar secara home visit,” terang Suryadi yang juga menjabat ketua RT di Kelurahan Mekarjaya.

Sementara, warga Cipayung, Suryana yang juga berprofesi sebagai guru menjelaskan, meski sekarang penerapan belajar secara online tidak efektif bila dibandingkan dengan tatap muka.Hal ini tetap harus dijalankan, karena Dinas Pendidikan Kota Depok masih memberlakukan belajar online.

Dia tak memungkiri jika belajar paling efektif adalah secara tatap muka, sebab hal kebutuhan kuota menjadi permasalahan di kalangan orang tua murid, termasuk dia.

“Kalau dibilang belajar online itu efektif, tentu pasti tidak. Hasilnya kurang memuaskan. Ya memang kalau tatap muka bisa menyentuh langsung ke murid. Belum lagi masalah kuota yang menjadi kendala utama,” jelas Suryana saat dikonfirmasi.

Menurutnya, belajar secara online juga akan sulit diterapkan pada anak kelas 1 SD atau MI, TK atau PAUD karena materi yang diberikan masih berupa dasar, sehingga akan lebih baik secara tatap muka. Sebab guru akan mengetahui perkembangan setiap anak yang berbeda tergantung karakternya.

Loading...

loading...

Feeds