Pandemi Covid-19, BPS Prediksi Angka Kemiskinan di Kota Depok Bertambah

Deretan rumah bedeng di area pemukiman padat penduduk di kawasan Kecamatan Pancoranmas, Rabu (8/7/2020).

Deretan rumah bedeng di area pemukiman padat penduduk di kawasan Kecamatan Pancoranmas, Rabu (8/7/2020).


POJOKJABAR.com, DEPOK – Pandemi Covid-19 diprediksi dapat memicu terjadinya kenaikan angka kemiskinan masyarakat di Kota Depok. Hal itu tak terlepas, dari dampak putus kerja yang diberlakukan perusahaan untuk menutupi kerugian selama wabah Virus Korona mendera empat bulan.

Kasi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok, Bambang Pamungkas mengatakan, terjadinya pandemi Covid-19 di Kota Depok, diperkirakan akan berdampak terhadap angka kemiskinan. Apalagi, masyarakat Kota Depok mengalami pemutusan kerja dari perusahaan akibat Covid-19.

“Kemungkinan besar bisa terjadi penambahan angka kemiskinan,” ujar Bambang Pamungkas kepada Radar Depok (Group Pojoksatu.id), Rabu (08/07/2020).

Namun, kata Bambang, tidak dapat memprediksi perkiraan angka penambahan maupun jumlah angka kemiskinan di Kota Depok. Angka kemiskinan di Kota Depok pada 2018 sebanyak 49.394 jiwa atau 2,14 persen, 2019 sebanyak 49.357 persen atau 2,07 persen, sedangkan untuk 2020 pihaknya belum memiliki data lengkap.

Bambang mengungkapkan, berdasarkan Pendataan Basis Data Terpadu 2015, kecamatan dengan presentase penduduk miskin terbesar di Kota Depok, yakni Kecamatan Sawangan sekitar tujuh ribuan atau 4,5 persen. Kecamatan yang sedikit angka kemiskinannya berada di Kecamatan Cinere.

“Angka kemiskinan Kecamatan Cinere pada 2015 sebanyak 1.400 jiwa atau 1,05 persen,” terang Bambang.

Menurutnya, guna mengantisipasi meningkatknya angka kemiskinan dampak dari Covid-19. Pemerintah Kota Depok dapat memberdayakan masyarakat ekonomi kecil. Selain itu, masyarakat yang mampu secara ekonomi, sudah saatnya lebih dermawan kepada masyarakat yang ekonominya kurang. Dengan menjadikan kebiasaan berbagi kepada sesama.

Bambang menuturkan, masyarakat dapat membantu masyarakat lain dengan membiasakan membeli di toko maupun warung tetangga, walaupun perbedaan harga berkisar Rp1.000 per barang. Dengan begitu dapat menghidupkan ekonomi kerakyatan.

Masyarakat miskin, sambung dia, tidak hanya tanggungjawab pemerintah, namun menjadi tanggungjawab bersama. Selain itu, Pemerintah maupun instasi swasta dan masyarakat, dapat mengoptimalkan Kampung Siaga. “Optimalkan Kampung Siaga Covid yang sekarang ada, guna mengantisipasi dampak ekonomi,” tegas Bambang.

Perlu diketahui, sebelum terjadi Covid-19 Depok berhasil menjadi kota dengan persentase penduduk miskin terendah se-Jawa Barat pada tahun 2018, dengan angka 2,14 persen.

“Raihan ini patut kita syukuri, kita menjadi (angka kemiskinan, red) yang terendah di Jabar, bahkan Depok juga ada di urutan ketiga se-Indonesia,” ungkap Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna kepada Radar Depok.

Loading...

loading...

Feeds