Cegah Antrean Penumpang, PT KAI Tambah KRL di Jam Sibuk

KRL Commuter Line melintas di perlintasan Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Pancoranmas, Minggu (14/6/2020).

KRL Commuter Line melintas di perlintasan Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Pancoranmas, Minggu (14/6/2020).


POJOKJABAR.com, DEPOK – Untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan dan antrean penumpang, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menambah jumlah armada Kereta Rel Listrik (KRL). Terlebih, sejumlah perkantoran membuka dan menerapkan kembali Work From Office (WFO) di wilayah Jabodetabek, Minggu (14/6/2020).

Direktur Utama PT KAI, Didiek Hartantyo mengatakan, guna meningkatkan kenyamanan terhadap pengguna KRL. PT KAI melalui PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), telah mengambil sejumlah kebijakan. Kebijakan tersebut selain mengenakan masker, jumlah penumpang di batasi 74 orang di setiap gerbongnya.

“Namun jumlah calon penumpang dengan ketersediaan kereta tidak seimbang,” ujar Didiek kepada Radar Depok (Group Pojoksatu.id).

Didiek menjelaskan, PT KCI akan menambah armada kereta dari 770 menjadi 938 kereta pada jam sibuk, yakni pukul 06.00 hingga 08.00, perjalanan kereta menjadi lima menit sekali. Dengan adanya penambahan perjalanan kereta, tidak ada lagi penumpukan penumpang di sejumlah stasiun Jabodetabek.

Hal itu dikarenakan pada 15 Juni (hari ini) sejumlah intansi pemerintahan maupun kantor swasta, menerapkan kembali kebijakan WFO. Menurutnya, dengan adanya kebijakan tersebut banyak masyarakat akan menggunakan moda transportasi kereta untuk perjalanannya menuju tempat kerja.

“Artinya akan ada penambahan penumpang kereta KRL dalam jumlah yang signifikan,” terang Didiek Hartantyo.

Sementara itu, salah seorang pengguna KRL di Kota Depok, Ade Iskandar mendukung kebijakan KAI dengan menambah jumlah armada kereta yang beroperasi. Menurutnya, penambahan kereta dapat mengurangi antrean dan jumlah penumpang yang menggunakan KRL. Menurutnya, apabila langkah tersebut tidak dilakukan, dapat dipastikan akan terjadi antrian panjang di setiap stasiun di Kota Depok.

Ade Iskandar menuturkan, setiap jam kerja masyarakat banyak yang menggunakan kereta sebagai pendukung perjalanan. Apalagi, ongkos naik kereta menuju wilayah Jakarta relatif lebih murah dibandingkan angkutan umum lainnya.

Namun, Ade Iskandar meminta jarak waktu kereta melintas di setiap stasiun dapat di percepat, sehingga mengantisipasi antrian masyarakat di stasiun.

“Minimal setiap tiga atau lima menit terdapat kereta sehingga masyarakat tidak menunggu lama di peron apalagi jumlah penumpang dibatasi,” tutup Ade Iskandar.

(RD/dic/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds