24 Pahlawan Gugur, Idi Kota Depok Desak Transaparan dan APD

Ilustrasi

Ilustrasi


POJOKJABAR.com, DEPOK – Pahlawan yang menangani korban Virus corona (Covid-19) kembali gugur. Minggu (5/6/2020), dua dokter dikabarkan meninggal.

Artinya, sejauh ini sudah ada 18 dokter yang meninggal sejak virus mematikan ini masuk Indonesia, plus enam dokter gigi. Tingginya angka kematian bagi tenaga kesehatan, dinilai Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Depok kurangnya transaparan dalam menangani corona.

Ketua Satgas Covid-19 IDI Kota Depok, dr. Alif Noeriyanto Rahman mengungkapkan, dari satgas Covid-19 IDI Kota Depok turut berduka atas meninggalnya teman sejawatnya. Semestinya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) atau Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat bisa mengumumkan tenaga medis yang meninggal atau terjangkit Covid 19.

Jadi tidak harus menunggu penderita sendiri atau keluarganya yang menyampaikan. Informasi tentang siapa saja yang tertular, penting untuk memutus mata rantai penularan wabah pandemi ini.

“Kami meminta pemerintah untuk lebih transparan mengenai pasien, khususnya tenaga medis yang sudah dinyatakan PDP covid 19 maupun positif,” ucapnya saat dihubungi Harian Radar Depok (Pojoksatu.id Group), Minggu (5/6).

Lebih lanjut dia menjelaskan, data tersebut sangat diperlukan untuk bisa melacak dugaan penularan virus dan memonitor siapa saja yang terpapar, sehingga mampu memutus mata rantai penularan. Selanjutnya juga harus menjamin ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai standar dan aman bagi para dokter serta tenaga medis.

“Dilapangan masih banyak dokter yang memakai APD tidak standar karena minim, susah dan mahal sekali harganya untuk mendapatkan APD,” tuturnya.

Selain itu, dia juga menyebutkan harus ada jaminan tempat perawatan bagi dokter dan tenaga medis bila seandainya terpapar covid 19, supaya pertolongan bisa lebih cepat.

”Kami mengusulkan memperbanyak screening covid 19 dengan rapid tes antigen atau swab tenggorok masal. Bukan seperti sekarang ini, rapid tes yang digunakan saat ini berbasis antibodi yang sering membuat negatif palsu. Sekarang ini banyak pasien yang tampak sehat tetapi membawa virus (carrier) yang bisa menular ke dokternya,” jelasnya.

Sehingga solusi yang tepat menurutnya, dengan screening massal setiap pasien yang mau masuk rumah sakit dengan rapid tes yang berbasis antigen. Bukan antibodi yang seperti sekarang ini dan semua pasien serta pengunjung rumah sakit wajib memakai masker.

Loading...

loading...

Feeds