Berawal dari Kasus Orang Hilang, Polrestro Depok Ungkap Praktek Prostitusi Online di Apartemen Kalibata

Kapolres Metro Depok, Kombes Azis Andriansyah saat merilis hasil pengungkapan kasus prostitusi perempuan di bawah umur, Kamis (23/1/2020). Radar Depok

Kapolres Metro Depok, Kombes Azis Andriansyah saat merilis hasil pengungkapan kasus prostitusi perempuan di bawah umur, Kamis (23/1/2020). Radar Depok


POJOKJABAR.com, DEPOK – Masa depan SA (15) yang nyaris hancur, masih bisa terselamatkan. Selangkah lagi, pelajar SMP ini masuk ke lubang hitam. Dunia prostitusi. Peristiwa bermula pada akhir tahun lalu, tepatnya 31 Desember 2019, atau beberapa saat sebelum malam pergantian tahun.

Dia berkenalan dengan FD (16) lewat media sosial. Dalam perbincangannya, FD mengajak SN untuk menikmati malam pergantian tahun di Anyer, Banten. SN menuruti ajakan tersebut. Dia pergi dari rumahnya.

FD mengajak naik kereta. Namun, bukannya ke Anyer, SN justru dibawa ke apartemen di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Di lokasi inilah SN kemudian mendekam selama hampir tiga minggu. Orangtuanya membuat laporan kehilangan anak ke Polres Metro Depok, Sabtu (4/1).

“Berangkat dari sana (laporan), kami mulai melakukan penyelidikan,” ungkap Kapolres Metro Depok, Kombes Azis Andriansyah, di Mapolrestro Depok, Kamis (23/01/2020).

Azis mengatakan, Tim Srikandi Reskrim Polres Metro Depok akhirmya berhasil mengendus keberadaan SA. Polisi lalu menyasar apartemen tersebut.

“Kami bekerjasama dengan petugas pengaman apartemen. Langsung dilakukan penggeledahan. Benar saja. Dia (SA) ada di dalam salah satu kamar,” tambah Azis.

Di dalam kamar, sambung Azis, SA tidak sendiri. Selain FD, masih ada beberapa orang lain. Mereka yakni, NZ (15, perempuan), JC (15, perempuan), NF (19, pria), JF (39, pria), dan SS (17, perempuan),

“Perempuan dibawah umur ini akan dimanfaatkan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Yang mengkoordinir adalah FD dan JF,” terangnya.

Azis menerangkan, berdasarkan keterangan pelaku, diketahui untuk sekali kencan, dipatok tarif hingga Rp900 ribu. Pengantar (joki) mendapat bayaran Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Sisanya dibagi rata dengan mucikari.

“Modusnya dengan menawarkan mereka lewat media sosial. Artinya bergerak lewat sistem online. Jadi ditegaskan, awalnya ini laporan anak hilang namun berkembang jadi arah pidana,” ucap Azis.

Loading...

loading...

Feeds