Disdagin Kota Depok Dorong Minyak Kemasan, Larang Curah Biar Tak Dioplos

Seorang pedagang minyak curah menyiapkan daganganya.

Seorang pedagang minyak curah menyiapkan daganganya.

POJOKJABAR.com, DEPOK – Sudah dipastikan 1 Januari 2020 mendatang minyak curah, tidak ada lagi di pasaran. Jadi, adanya aturan tersebut menurut Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Depok malah melindungi konsumen dari kenakalan pengoplos minyak goreng.

Kepala Bidang Perdagangan Disdagin Kota Depok, Anim Mulyana mengatakan, sebenarnya diserukan aturan ini agar konsumen lebih cerdas memilih minyak goreng yang terjamin kehalalannya, higinenis, juga kandungan gizi.

Minyak goreng curah merupakan minyak yang diproduksi produsen yang merupakan turunan dari CPO dan telah melewati proses Refining, Bleaching dan Deodorizing (RBD) di pabrikan.

Selama ini pendistribusian minyak goreng tersebut, dilakukan dengan menggunakan mobil tangki yang kemudian dituangkan di drum-drum di pasar. Proses distribusi minyak goreng curah biasanya menggunakan wadah terbuka.

Akibatnya bisa rentan kontaminasi air serta binatang. Sedang penjualannya, ke konsumen, kerap juga menggunakan plastik pembungkus tanpa merek. Di sisi lain, produksi rentan dioplos dengan minyak jelantah.

Sementara, tak banyak konsumen yang bisa membedakan minyak goreng curah dari pabrikan, dengan minyak jelantah (minyak goreng bekas pakai) yang dimurnikan warnanya.

“Karena ada resiko-resiko itu, maka kami mendorong, agar produsen wajib melakukan pengemasan minyak goreng,” katanya.

Penerapan minyak curah dalam kemasan pada 1 Januari 2020 diprotes, agen dan penjual di Kota Depok. Kebijakan sepihak tersebut dinilai telah merugikan masyarakat dengan ekonomi lemah.

Pemilik agen minyak goreng curah, di Jalan Gadog Raya, RT3/7 Kelurahan Cisalak Pasar (Cipas), Cimanggis, Gunawan mengaku, menolak rencana pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, untuk melarang beredarnya minyak goreng curah di masyarakat.

Menurut Gunawan, rencana tersebut malah merugikan masyarakat dengan ekonomi lemah. Dia menjelaskan, minyak goreng curah di agen miliknya selama ini dibeli oleh para pedagang eceran, untuk dijual ke masyarakat yang mayoritas ekonomi lemah.

“Pembeli minyak goreng curah kebanyakan pedagang gorengan, dan jajanan pinggir jalan yang tentunya masyarakat dengan ekonomi menegah ke bawah,” katanya kepada Radar Depok (Pojoksatu.id Group).

(RD/rub/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds