Diduga Dapat Memicu Kanker, Obat Lambung Ranitidin Ditarik BPOM

Warga menunjukkan obat Ranitidine jenis tablet yang masih bisa dibeli di toko obat, Selasa (8/10/19). Radar Depok

Warga menunjukkan obat Ranitidine jenis tablet yang masih bisa dibeli di toko obat, Selasa (8/10/19). Radar Depok

POJOKJABAR.com, DEPOK – Diduga dapat memicu kanker, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pusat menginstruksikan menarik peredaran jenis obat Ranitidin di seluruh toko obat, apotek, rumah sakit, dan puskesmas.

Meski begitu, Dinas Kesehatan Kota Depok mengklaim obat jenis Ranitidin yang dimaksud tidak ada di Gedung Farmasi Kota Depok. Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita mengaku, baru mendapat informasi soal obat jenis Ranitidin tidak layak edar dari pemberitaan di media.

Lantas bergegas dirinya mengecek keberadaan obat tersebut di gudang obat-obatan yang berada di lingkungan Balaikota.

“Obat Ranitidin yang tidak diperbolehkan lagi oleh BPOM itu jenis sirup dan injeksi. Di gudang farmasi kami tidak ada obat itu, adanya bentuk tablet. Yang tablet diperbolehkan konsumsi oleh BPOM,” kata Novarita kepada Radar Depok (Pojoksatu.id Group), di Balaikota, Selasa (8/10).

Dia menjelaskan, seluruh Puskesmas di Kota Depok tidak ada yang menggunakan obat Ranitidin jenis sirup dan injeksi (cairan). Sebab mayoritas pengguna obat tersebut adalah usia dewasa dan kadar sakit lambung yang tidak terlalu parah.

“Kalau bentuknya cairan itu kan dimana-dimana memang bahaya ya, karena langsung diserap oleh tubuh. Pasien sakit lambung di Depok rata-rata pakainya tablet dan sembuh, jadi seluruh puskesmas kami menggunakan yang tablet,” jelas Novarita.

Sampai saat ini, lanjut Novarita, pihaknya belum mendapatkan surat resmi dari BPOM. Sehingga belum dapat melakukan sidak ke apotek, toko obat, dan klinik se-Kota Depok. Namun dia mengklaim bahwa di Depok tidak ada yang menggunakan Ranitidin jenis sirup dan injeksi.

“Nanti kalau sudah ada surat dari pusat, Dinkes lakukan sidak bersama BPOM tentunya yang memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pengawasan,” terang Novarita.

Loading...

loading...

Feeds