Insiden Pemadaman Listrik, Mall di Kota Depok Merugi Hingga Ikan Koi Mati

Kondisi Mall Depok Town Square saat pemadaman lisrik dan Ikan koi milik sejarawan Jeje Rijal mati, karena mesin oksigen tidak berfungsi.

Kondisi Mall Depok Town Square saat pemadaman lisrik dan Ikan koi milik sejarawan Jeje Rijal mati, karena mesin oksigen tidak berfungsi.

Meski ia menerima kabar yang tidak resmi dari PLN tersebut tetap mengisi air untuk keperluan sehari-hari. Sebab, kemarin kata dia, mati listrik sejak pukul 11.40 WIB sampai pukul 02.00 WIB dini hari, Senin (5/8) baru bisa menyalah listriknya.

“Itu dapat kiriman pesan himbauan melalui WA. Makanya saya sama tetangga stok air khawatir padam listrik lagi,” tuturnya.

Hal sama juga dikatakan Fenti, khawatir listrik padam sudah mempersiapkan banyak hal kalau hari ini masih dilakukan pemadaman bergilir. Sejak kemarin Fenti sudah membeli air isi ulang untuk berbagai keperluan termasuk MCK jika memang mendesak digunakan.

“Mau gak mau stok air. Saya dapat informasi kaya gitu di WA. Itu kan gak resmi tapi kami warga sudah waspada kalau listrik mati,” kata Fenti.

Nasib yang sama juga dialami sejarahwan yang tinggal di Kecamatan beji, Jeje Rizal. Jeje harus kehilangan 43 ekor ikan koi nya karena mesin oksigen untuk ikan koi nya mati. Dia mengira listrik tidak akan mati dalam waktu yang lama.

“Ketika lampu padam saya kira hanya pendek waktunya,” kata Jeje.

Pengalamannya jika hanya satu sampai dua jam listrik padam akan kuat jika jauh dari waktu pemberian pakan. Sebab ketika koi makan mereka perlu oksigen lebih banyak untuk mencerna. Nah, celakanya saya secara teratur memberi makan koi menjelang makan siang. Dalam situasi inilah listrik padam.

“Saya ada aerator yang dapat menyimpan daya listrik. Tetapi aerator tersebut hanya bisa bertahan selama beberapa jam paling panjang enam jam,” kata Jeje.

Sedangkan listriknya padam di rumah saya mulai sekitar hampir tengah hari. Selang enam jam setelahnya, ketika malam datang saya tengok koi yang berkumpul di sekitar gelembung udara susah berpencar karena gelembung udara sudah habis.

Berapa sudah mengambang. Terutama yang ukuran 60 sampai 70 cm. Oksigen yang mereka perlukan memang lebih banyak. Sampai tengah malam listrik masih padam.

“Saya tak sampai hati menengok koi karena sudah dapat menebak pasti semua sudah mati,” kata Jeje. “Akhirnya saya mengubur 43 koi yang telah saya pelihara selama sekitar enam tahun dari dua kolam di rumah saya,” tukas Jeje.

(RD/ina/rub/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds