Babat Begal Ponsel di Kota Depok, Polisi Harus Bekerja Cepat dan Konsisten

Kasubag Humas Polresta Depok, AKP Firdaus saat memberi keterangan pers ihwal penangkapan pelaku kasus begal ponsel, di Mapolresta Depok, jum'at (22/2/19). RUBIAKTO/RADAR DEPOK

Kasubag Humas Polresta Depok, AKP Firdaus saat memberi keterangan pers ihwal penangkapan pelaku kasus begal ponsel, di Mapolresta Depok, jum'at (22/2/19). RUBIAKTO/RADAR DEPOK

POJOKJABAR.com, DEPOK – Maraknya aksi begal yang dilakukan geng motor di Kota Depok menjadi perhatian ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel. Menurutnya, Polresta Depok harus bekerja cepat dan konsisten.

Dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini mengatakan, agar begal bisa diberantas dan efek jera muncul, maka polisi harus bekerja dengan memenuhi beberapa unsur.

Antara lain, bekerja cepat saat merespon keluhan, menanggapi situasi gawat dengan cepat, dan menanggapi laporan warga secara cepat. Yang terpenting harus konsisten.

“Kalau unsur tersebut dilakukan, efek jera diharapkan akan muncul. Tapi kalau tidak dilakukan, jangan harap rasa aman bisa terjadi,” bebernya saat dihubungi Radar Depok (Pojoksatu.id Group), Jum’at (22/02/2019).

Dia juga mengaku sempat mendengar keluhan dari masyarakat Depok yang tidak pernah melihat polisi berpatroli. Namun demikian, dia juga berpesan jangan sampai ada dilema rasa aman, yang merupakan sebuah istilah interaksi, antara prilaku masyarakat dan prilaku polisi.

“Misalnya, Bermula dari kerisauan marak aksi begal masyaralat langsung meningkatkan kewaspadaan, dan polisi langsung meningkatkan kesiagaan. Jika kewaspadaan masyarakat dan kesiagaan polisi meningkat, maka peluang aksi kejahatan menyempit,” kata Reza.

Tapi yang harus diwaspadai, dilema rasa aman berlanjut. Merasa polisi siaga, sehingga masyarakat menurunkan kewaspadaannya, begitu pula dengan polisi yang menurunkan kesiagaannya sehingga Situasi berbalik 180 derajat.

“Dan ini menjadi masalah baru, dan menjadi kesempatan bagi pelaku kejahatan,” tegasnya.

loading...

Feeds