Teroris Paham News Value, Modus Pakai Anak-anak dan Perempuan, Ternyata Ini Tiga Alasan Pentingnya

Para narapidana kasus terorisme saat menyerahkan diri di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5) pagi./Foto: via Jawapos

Para narapidana kasus terorisme saat menyerahkan diri di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5) pagi./Foto: via Jawapos

POJOKJABAR.com, DEPOK-Para teroris zaman sekarang sudah paham akan news value (nilai berita). Hal tersebut bisa dilihat pada aksi terorisme bom bunuh diri teranyar di Surabaya, Jawa Timur. Hal ini diungkapkan Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Solahudin.

Pengamat Terorisme UI: Teroris Butuh Media Sebarkan Rasa Takut, Media Tidak Boleh Siarkan Aksi Teror?

“Apa teroris tahu news value? Tahu, itu sebabnya modus terbaru pakai anak-anak dan perempuan,” tegasnya.

Beberapa alasan pun dikemukakan Solahudin, salah satunya agar masyarakat dapat terkejut dengan aksi terbaru yang melibatkan anak dan perempuan. “Mereka tahu kalau laki-laki sudah biasa, tetapi kemudian kalau pelakuknya ibu dan anak-anak, itu baru luar biasa, baru akan dapat coverage yang luas,” terang Solahudin.

Oleh karena itu, keunikan pola aksi yang baru ini membuat Indonesia menjadi perhatian di dunia. Media asing pun meliput kasus ini karena pengeboman dilakukan oleh keluarga.

Ternyata Ini Sebab Nekatnya Dua Terduga Teroris Cantik Terobos Mako Brimob

Menurut Solahudin, aksi terorisme melibatkan perempuan dan anak-anak ini dilakukan karena tiga alasan. Dengan tujuan yang menekankan keberadaannya mereka perlu disadari.

“Alasan pertama keamanan, kalau dilakukan perempuan dan anak-anak lebih sulit diidentifikasi. Kedua untuk mendapatkan coverage dari media sehingga menyebarkan rasa takut,” jelasnya.

“Terakhir, ini yang penting, sebagai pesan untuk disebarkan ke jaringan mereka sendiri, yaitu provokasi bahwa perempuan dan anak-anak aja berani, masak lo kagak berani,” pungkasnya.

Istri Aksi Terorisme di Banten Ternyata Warga Kabupaten Sukabumi

Dalam melakukan aksinya, Solahudin menilai media ke depan perlu berhati-hati dalam memberitakan agar tidak menjadi corong penyebarluasan paham radikalisme. Sebaliknya, dirinya mengimbau agar masyarakat dapat bijak membedakan hoax dan realitas dengan konfirmasi ataupun membaca berita.

Selain itu, ia mengatakan jika media tidak menyiarkan aksi mereka, itu bukanlah hal berarti. Sebab, esensi terorisme yang ingin disampaikan adalah menakut-nakuti masyarakat.

“Memang teroris ini oksigennya media untuk menyebarkan rasa takut secara meluas. Kalau aksi teror terjadi di kutub utara dan kutub selatan, pasti tidak akan menimbulkan rasa takut. Teroris membutuhkan media untuk menyebarkan rasa takut,” ujar Solahudin.

Ini Dia Wajah Dua Terduga Teroris Cantik, Nama Lengkapnya di Sini

Memberikan informasi aktual dan faktual menjadi tugas dari para jurnalis. Namun, nyatanya media kini dapat menjadi oksigen bagi para teroris untuk menyebarkan rasa takut dari aksi yang dilakukan.

(mar/jpc/pojokjabar)

 

loading...

Feeds