Korban Si Murah Miras Oplosan Bertambah Tiap Tahun

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, DEPOK – Minuman keras (Miras) oplosan jadi primadona. Sebulan ini, jagat DKI Jakarta dan Jawa Barat (Jabar) bahkan seluruh Indonesia, digegerkan minuman seharga Rp20 ribu satu plastik dapat memabukan, plus menuju liang lahat. Kenapa miras oploposan jadi fenomenal. Lalu siapa yang patut dapat disalahkan, coba dilihat dulu kebelakang.

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebutkan, pemerintah harus mencabut Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 6 tahun 2015 yang mengatur minuman beralkohol. Aturan itu dianggap tidak berfungsi sebagaimana diharapkan, dan malah memicu masalah baru.

Permendag itu mestinya berlaku untuk membatasi konsumsi alkohol di Indonesia. Namun, efeknya justru membuat minuman beralkohol legal sulit dijangkau oleh konsumen yang ingin minum. Para konsumen yang tidak bisa menjangkau minuman legal itu pun beralih ke minuman beralkohol oplosan, yang berbahaya.

Baca Juga: Mabuk Murah, Mata Buram Jantung Berdebar Efek Methanol dari Miras Oplosan

Bahkan, jumlah peminum minuman oplosan yang meninggal jadi semakin meningkat. Peneliti CIPS Sugianto Tandra mengatakan, maraknya konsumsi minuman beralkohol oplosan justru diakibatkan oleh terbatasnya akses terhadap minuman beralkohol legal, seperti pelarangan minimarket untuk menjual alkohol Tipe A (alkohol kurang dari 5 persen).

Karena itu dia menyarankan agar kebijakan dalam Permendag nomor 6 tahun 2015 harus dicabut, untuk ikut menurunkan korban jiwa yang diakibatkan oleh minuman beralkohol oplosan.

“Jatuhnya korban akibat konsumsi minuman beralkohol oplosan terkait dengan beberapa hal. Salah satunya adalah kebijakan pembatasan peredaran dan penjualan minuman beralkohol di daerah. Kedua pelarangan penjualan minuman beralkohol di minimarket dan toko lainnya,” ujar Sugianto dalam keterangan resminya kepada Harian Radar Depok (Pojoksatu.id Group).

loading...

Feeds