Para Pelaku Penjarahan Toko di Depok Terancam Dipenjara 4,5 Tahun

TERSANGKA GENG MOTOR: Sejumlah tersangka geng motor saat mengikuti prarekontruksi mengenai penjarahan di salah satu toko pakaian di Jalan Sentosa Raya, Kecamatan, Sukmajaya. Ahmad Fachry/Radar Depok

TERSANGKA GENG MOTOR: Sejumlah tersangka geng motor saat mengikuti prarekontruksi mengenai penjarahan di salah satu toko pakaian di Jalan Sentosa Raya, Kecamatan, Sukmajaya. Ahmad Fachry/Radar Depok

Cari Aman

POJOKJABAR.com, DEPOK – Sembilan terduga pelaku penjarahan toko Fernando, Jalan Sentosa Raya, Sumajaya, Minggu (24/12/17) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, telah dinyatakan lengkap (P21) oleh Polresta Depok dan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Depok, Selasa (9/1/18).

Kesembilan tersangka tersebut antara lain AG (16), D (16), W (15), M (12), F (17), AB (17), BA (17) perempuan, EA (17) perempuan, dan YA (17) perempuan.

Kepala Kejaksaan Negeri Kota Depok, Sufari mengatakan, kesembilan anak tersebut dipastikan akan menjalani persidangan anak yang akan dilaksanakan di Pengadilan Negeri Kelas 1B Kota Depok.

“Mereka tidak dilakukan upaya diversi, tapi akan menjalani sidang,” kata Sufari.

Sufari mengatakan, diversi dapat dilakukan apabila ancaman maksimal dari pasal yang dijerat oleh tersangka dibawah tujuh tahun. Sedangkan para tersangka tersebut terancam dua pasal yang ancamannya diatas 9 tahun.

“Mereka ini kena pasal 365 atau 368 KUHP dengan ancaman diatas 9 tahun penjara, jadi tidak diversi,” singkat Sufari.

Sementara itu, Humas Pengadilan Negeri Kelas 1B Kota Depok, Teguh Arifiano mengatakan, sesuai dengan Undang Undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, ada kekhususan dalam penyelenggaraan persidangan anak.

Antara lain, persidangan anak digelar secara tertutup, komposisi hakim persidangan anak bisa menggunakan hakim tunggal, wajib didampingi orang tua, Balai Pemasyarakatan (Bapas), dan penasehat hukum.

“Hukumannya juga lebih rendah, yakni setengah dari hukuman maksimal yang ada di KUHP, misalnya maksimal hukuman 9 tahun, persidangan anak maksimal 4,5 tahun dsb,” kata Teguh saat dietemui di ruangannya.

Lebih jauh Teguh mengatakan, dalam proses persidangan anak dikenal dengan kata Diversi atau perdamaian antara pelaku dan korban, dengan catatan ancaman pidanannya dibawah tujuh tahun.

“Itu wajib dilakukan sebelum sidang. Baik dipengadilan, kepolisian atau kejaksaan wajib didamaikan asalkan bukan residivis dan ancaman pidananya dibawah tujuh tahun,” sambungnya.

Terkait persidangan Gang Jepang, Teguh mengatakan pihaknya belum menerima berkas dari pihak kejaksaan. Sampai saat ini, pihak kepolisian Resor Kota Depok masih terus mengupayakan pengungkapan kasus tersebut.

Kasat Reskrim Polresta Depok, Kompol Putu Kholis Aryana menambahkan, setelah pihakya melakukan pra rekonstruksi di lokasi kejadian, didapati fakta masih ada pelaku yang belum tertangkap atau masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Masih ada DPO lagi, kurang lebih empat orang, masih kita lakukan pengejaran,” katanya.

Untuk itu, Putu mengimbau para pelaku yang masih DPO, agar yang bersangkutan maupun keluarga bersikap kooperatif, guna mempermudah penyelesaian kasus tersebut.

(RD/ade/pojokjabar)


loading...

Feeds

LGBT

Cianjur Perlu Perda LGBT

Mazolat berharap, pekerjaan rumah yang tak mudah ini membutuhkan kerjasama dari masyarakat dan pemkab Cianjur.