Sekolah Filial, Terpaksa dan Didesak Kebutuhan

TERPAKSA : Bersama SMAN 8 dan SMAN 2, SMAN 3 membuka sekolah filial di SD Karakter yang berlokasi di Jalan Raden Saleh.
TERPAKSA : Bersama SMAN 8 dan SMAN 2, SMAN 3 membuka sekolah filial di SD Karakter yang berlokasi di Jalan Raden Saleh.
TERPAKSA : Bersama SMAN 8 dan SMAN 2, SMAN 3 membuka sekolah filial di SD Karakter yang berlokasi di Jalan Raden Saleh.

POJOKJABAR.id, DEPOK  Keberadaan kelas filial (kelas jauh, yaitu suatu kelas yang awalnya diperuntukan untuk siswa-siswi yang ingin bersekolah di suatu sekolah, tetapi tidak bisa bersekolah di sekolah yang dituju karena keterbatasan kursi/ruang kelas) menuai pro dan kontra. Satu sisi, kelas filial memberikan kesempatan bagi para siswa untuk bersekolah di sekolah negeri. Sekalipun memang, ada kekhawatiran proses kegiatan belajar mengajar tak optimal.

Kondisi ini wajar memang mengingat pelaksanaan KBM jauh dari sekolah siswa. Kelas yang mereka tempati menumpang di sekolah yang sudah ditunjuk. SMPN 3 Depok contohnya. Lantaran kelebihan kuota siswa dalam PPDB (Proses Penerimaan Peserta Didik Baru) 2015 kemarin, mereka terpaksa ”men-trasnfer siswanya ke sekolah filial di SDN Mekarjaya 17, Jalan Semar Raya, Mekarjaya, Sukmajaya.

Total ada sekitar tiga rombel (rombongan belajar) yang dititpkan di SDN Mekarjaya 17. Adapun maksimal rombel untuk jenjang SMPN, SMKN, dan SMAN adalah sembilan rombel. Sedangkan SD, maksimal empat rombel.

Panitia Pelaksana PPDB 2015, Tatik Wijayanti mengatakan tak menampik ihwal kondisi ini. Ia mengakui bahwa SMPN 3 hanyalah satu dari sekian sekolah yang terpaksa membuka sekolah filial. ”Tingkat SMA juga kelebihan (siswa),” ungkap dia.


Ia memaparkan, pihaknya membagi titik wilayah sekolah filial berdasarkan kecamatan. Untuk Sukmajaya dan Cilodong masuk kategori 3, dimana cakupan sekolahnya adalah SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 8. ”Sekolah filialnya (kelas) di SD Karakter di Jalan Raden Saleh,” tambah dia.

Sementara Kecamatan Cimanggis dan Tapos atau disebut Filial 4, mencakup SMAN 4 Depok dan SMAN 7 Depok dan sekitarnya menumpang di SMPN 11 Depok. Dan untuk Filial 5 kawasannya mencakup wilayah Kecamatan Sawangan, Bojongsari, Limo dan Cinere. Diantaranya ada SMAN 1 Depok, SMAN 5 Depok, SMAN 6 Depok, SMAN 9 Depok, SMAN 10 Depok menumpang di SMPN 10 Depok.

Tatik menjelaskan, alasan diadakannya sekolah filial, karena melihat masih banyaknya siswa lulusan SMP yang belum mendapatkan sekolah. Sedangkan sekolah swasta sudah menyerahkan data dapodiknya sehingga tidak bisa menambah siswa. Jadi, harus ada penyesuaian penerimaan siswa di SMA-SMA ditambah kuotanya dan menerapkan sekolah filial.

       “Memang sesuai dengan Juklak dan Junis PPDB 2015, tiap sekolah menerima sembilan rombel. Tetapi, pada pelaksanaannya antusias masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri sangat tinggi,” terangnya.

Sementara itu, Kadisdik Kota Depok, Herri Pansila beralasan, penambahan jumlah rombel atau sekolah filial semata-mata untuk menampung siswa Kota Depok. “Pertumbuhan masyarakat di Kota Depok terus meningkat. Jadi, harus ada penyesuaian kebutuhan sekolah negeri, demi menampung lulusan dari Kota Depok, tidak hijrah ke kota lainnya,” katanya.

Adapun terkait SMPN 3, jelas dia, teknis pelaksanaannya tak memiliki masalah. ”Semuanya lancar.  Teknis sederhananya, siswa SDN Mekarjaya 17 melaksungkan proses KBM pada waktu pagi hari. Sedangkan siang harinya, digunakan untuk KBM siswa dari SMPN 3 Depok,” tambah dia.

Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail berpendapat, dirinya tidak khawatir dengan keberlangsungan Sekolah Filial dari SMPN 3 Depok ke SDN Mekarjaya 17. Dirinya pun mengakui, penambahan jumlah sekolah negeri di Kota Depok di jenjang SMPN, SMAN dan SMKN masih rendah, tidak sebanding dengan pertumbuhan masyarakat Kota Depok yang cepat. Intinya, dari pengadaan Sekolah Filial ini, demi menaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), salah satunya adalah dengan menuntaskan wajib belajar 12 tahun.

“Sarana dan prasarana bisa berjalan seiringan dengan proses KBM berlangsung. Yang terpenting ada guru yang mengajar. Ini untuk memaksimalkan gedung yang ada, sembari proses pembangunan gedung sekolah yang baru,” ujarnya.

Dikonfirmasi belum lama ini, Kepala SMPN 3 Depok, Komar Suparman mengatakan, jika penerimaan siswa yang sesuai dengan Juklak dan Juknis, telah tertampung 324 siswa. Dimana nilai tertingginya, yakni 293 dan yang terendahnya 273. “Banyak yang kekeh ingin masuk ke SMPN 3, termasuk ‘siswa Itu’,” tutup dia.(peb/radardepok)