77 Pekerja di Depok Kena PHK

ILLUSTRASI : PHK
ILLUSTRASI : PHK
ILLUSTRASI : PHK

Dilakukan 30 Perusahaan, Bukan Karena Peceklik Ekonomi

POJOKJABAR.id, DEPOK – Dalam kurun waktu Januri hingga Agusutus, 30 perusahaan di Kota Depok sudah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 77 pekerja.

PHK itu dilakukan perusahaan dengan berbagai alasan dari mulai pelanggaran disiplin oleh karyawan dan alasan efisiensi. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Kota Depok, Diah Sadiah mengatakan, PHK tidak ada kaitannya dengan dampak ekonomi skala nasional yang kini mengalami keterpurukan.

Ia menjelaskan, PHK dilandasi beberapa alasan, seperti indisipliner serta banyaknya pegawai yang kurang produktif.

“Dipecat bukan karena perusahaan bangkrut. Di Depok perusahaannya tergolong kuat,” katanya.

Lebih lanjut, beber dia, mayoritas pekerja yang di PHK itu adalah buruh yang tidak mau dimutasi ke wilayah lain, karena sudah nyaman bekerja di perusahaan di Depok.


Dari 30 jumlah perusahaan yang mengurangi karyawannya hanya satu perusahaan yang melakukan efisiensi karena masalah perekonomian.

Perusahaan itu bergerak dibidang metal yang terletak di Jalan Raya Bogor. Bahkan, lanjut Diah, kebanyakan mereka yang keluar sebenarnya bukan karena perusahaan melakukan PHK langsung.

Akan tetapi, para pekerja mengambil inisiatif sendiri untuk berhenti karena perusahaan dinilai tidak memberikan hak yang sesuai. “Melihat pekerjaan di luar lebih baik, mereka berhenti,” ucap dia.

Ia menyatakan, dari cacatan mereka, ada dua perusahaan besar di Depok yang tutup pada 2014 lalu. Seperti, PT Takagi dan Tranca.

Dengan kondisi ekonomi yang tidak fluaktif, kata dia, saat ini perusahaan memang berat melakukan pergerakan penambahan karyawan. Bahan produksi sudah meningkat namun daya jual menurun.

Bahkan, satu perusahaan, yakni PT Triple S pabrik yang memproduksi sabun di Depok, terseok-seok. Sekitar 200 pekerja bekerja di perusahaan tersebut pun masih was-was.

“Yang ada isu perusahaan yang akan tutup. Tapi setelah ditelusuri perusahaan utang dengan bank. Tapi, tidak sampai ditutup,” paparnya.

Dari data Dinaskersos Depok, terdata jumlah perusahaan yang masih berkegiatan mencapai 470 perusahaan. Namun, jumlah itu sebenarnya ada sebanyak 724 perusahaan.

Total yang tercatat ada 42.614 pekerja, yang tersebar di 108 perusahaan besar, 250 perusahaan sedang dan 320 perusahaan kecil. PHK tersebut mulai terjadi sejak awal 2015, lalu. Yakni, Januari ada 5 Perusahaan yang memecat 18 pekerja. Kemudian pada April ada 8 perusahaan yang mem-PHK 16 orang pekerja.

Selanjutnya, pada Mei ada 9 perusahaan yang memutuskan kontrak kerja kepada 34 orang pekerja. Ditambah, pada Juni ada 6 perusahaan yang memecat 6 karyawan.

Dan pada Juli ada 1 perusahaan yang mem- PHK 2 pekerja. Serta pada Agustus ada 1 perusahaan yang memecat 1 pekerja. Dengan adanya kasus PHK itu, Diah berharap, perusahaan dapat terbuka dan menjalin komunikasi yang dengan para pekerjanya. Apalagi, kondisi perekonomian di tanah air akibat kenaikan dollar berdampak besar terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Menyikapi itu, Sekretaris Jendral Asosiasi Pengusaha Indonesia Kota Depok, Hasan menuturkan, sejauh ini belum ada PHK karena pelemahan rupiah yang dilakukan perusahaan yang ada di Depok. Namun demikian, pihaknya belum bisa memprediksi nasib perusahaan di Depok, bila gejolak ekonomi ini terus berlanjut.

“Gejolak memang ada di beberapa daerah tapi di Depok belum berpengaruh. Tetapi, memang di Depok belum ada pemecatan dan perusahaan yang melaporkan terkena dampak masalah ini,” pungkasnya. (bry/radardepok)