Bapelda Padang Adopsi Pengolahan Sampah

KUNJUNGAN: Kepala DKP Zamrowi (kanan) didampingi Koordinator UPS Merdeka 1 Heri Yanto (dua dari kanan) menerima kunjungan dari Bapelda Kota Padang, untuk mempelajari cara pengolahan sampah menjadi kompos, kemarin.
KUNJUNGAN: Kepala DKP Zamrowi (kanan) didampingi Koordinator UPS Merdeka 1 Heri Yanto (dua dari kanan) menerima kunjungan dari Bapelda Kota Padang, untuk mempelajari cara pengolahan sampah menjadi kompos, kemarin.
KUNJUNGAN: Kepala DKP Zamrowi (kanan) didampingi Koordinator UPS Merdeka 1 Heri Yanto (dua dari kanan) menerima kunjungan dari Bapelda Kota Padang, untuk mempelajari cara pengolahan sampah menjadi kompos, kemarin.

POJOKJABAR/id, DEPOK – Masalah sampah bukan hanya memusingkan pemerintah di kota-kota besar. Tapi juga kota yang jumlah penduduknya tak kurang dari 1 juta jiwa. Seperti halnya Pemerintah Kota Padang.

Kota yang jumlah penduduknya lebih kurang 900 ribu jiwa ini juga dipusingkan dengan persoalan sampah. Setiap harinya, penduduk Kota Padang menghasilkan 600 ton sampah.

Guna menanggulangi persoalan ini, kemarin, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapelda) Kota Padang melakukan kunjungan ke Unit Pengolahan Sampah ((UPS) Merdeka 1, yang berlokasi di Jalan Raya Merdeka, Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya.

Rombongan yang dipimpin Kepala Bapelda Kota Padang Edy Hasmi dan 11 Camat di Kota Padang, untuk mempelajari cara mengolah sampah organik menjadi kompos.


“Masalah sampah juga menjadi salah satu hal yang kami pikirkan. Per harinya masyarakat Kota Padang menghasilkan 600 ton sampah. Ini menjadi problematika bagi Pemerintah Kota Padang,” kata Edy Hasmi didampingi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok Zamrowi, Koordinator UPS Merdeka 1 Heri Yanto dan keamanan UPS Merdeka 1 Jumadi, kepada Radar Depok, kemarin.

Menurut Edy, dipilihnya Kota Depok untuk mempelajari cara pengolahan sampah, karena Pemkot Depok sangat konsen terhadap masalah klasik ini. “Depok sudah mengembangkan sistem mulai dari sumber sampah. Itu yang akan kami adopsi di Kota Padang,” kata Edy.

Sama halnya di Kota Depok, Pemkot Padang ternyata juga dipusingkan dengan banyaknya sampah liar. Terutama sampah yang menumpuk di tempat pembuangan sampah (TPS). TPS yang ada di kota tersebut masih menggunakan kontainer, belum berbentuk hanggar seperti di Depok.

“Kontainer yang disiapkan Pemerintah Kota Padang sebanyak 300 unit. Sementara bank sampah di kota kami baru ada 29 titik. Jauh dari bank sampah yang ada di Depok,” katanya.

Selain cara pengolahan sampah organik menjadi kompos, satu hal lagi yang akan diterapkan di Kota Padang yakni pemerintah setempat akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam hal menanggulangi sampah.

“Contohnya melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah tangga. Karena sumber utama sampah dari rumah. Hal ini juga yang akan kami adopsi di masyarakat Kota Padang,” kata Edy Hasmi. (ram/radardepok)