Guru SAI Meruyung Trauma

TERUS DITELUSURI : Anggota Polsek Limo memasang garis polisi di TKP, atas meninggalnya Hannan Fadilah.
TERUS DITELUSURI : Anggota Polsek Limo memasang garis polisi di TKP, atas meninggalnya Hannan Fadilah.
TERUS DITELUSURI : Anggota Polsek Limo memasang garis polisi di TKP, atas meninggalnya Hannan Fadilah.

Dewan Janji Telusuri Kematian Hannan Fadilah

POJOKSATU.id, DEPOK – Hingga kini belum ada kesimpulan yang di ambil pihak kepolisian atas meninggalnya Hannan Fadilah (6), siswi Sekolah Alam Indonesia (SAI) Meruyung, di Kolam Renang Arthayasa Stables (kawasan tempat berkuda) Kelurahan Grogol, Limo, Kamis (20/8) pagi.

Namun karena kejadian itu, lima guru pendamping yang berada di lokasi kejadian mengalami trauma alias syok.

“Para guru pendamping masih trauma dan syok. Jadi kami belum tahu bagaimana detailnya peristiwa itu, dari keterangan guru pendamping,” kata Ludfiono, Kepala Sekolah Alam Indonesia kepada Radar Depok beberapa waktu lalu.

Saat kejadian, kata dia, pihak sekolah memang mengajarkan latihan berenang kepada 30 siswa SD di SAI Meruyung, bersama lima guru pendamping.

Kejadian itu bermula ketika Hannan bersama puluhan siswa Sekolah Alam Indonesia Meruyung, tengah mengikuti kegiatan belajar berenang yang diadakan pihak sekolah. Mereka didampingi tiga guru pengajar, yakni Nesya, Eva dan Yuli.


Informasi yang dihimpun ketika latihan berenang telah selesai, sekitar 30 siswa SD Sekolah Alam kemudian keluar dari kolam dan masuk ke ruang ganti pakaian. Namun, tak disangka ada tiga anak yang kembali menceburkan diri ke salah satu kolam yang ada tanpa sepengetahuan guru pengajar.

Kolam tempat mereka menceburkan diri kali ini adalah kolam yang dalamnya 2 meter. Adanya kejadian itu dua anak berhasil diselamatkan, sementara seorang anak lainnya Hannan Fadilah, bocah berusia 6 tahun, berhasil diangkat tapi tak tertolong nyawanya akibat terlalu banyak menelan air. Hannan sempat dilarikan ke rumah sakit As-Syifa, namun kondisinya sudah terlalu parah dan tak tertolong lagi.

Manager Arthayasa Stables, Niken menyebutkan, saat kejadian hanya mendengar minta tolong. Namun, korban saat diangkat masih bernafas, kemungkinan besar saat diperjalanan ke rumah sakit baru meninggal. Kejadian ini memang baru pertama kali terjadi disini sejak 1992.

“Kami sudah siapkan alat pernfasan. Dan memang Sekolah Alam Indonesia sudah setahun terakhir menggunakan kolam renang ini. Kami turut berduka,” jelasnya kepada Radar Depok di pinggir kolam renang tempat kejadian perkara (TKP), kemarin.

Niken mengaku, kolam renang yang ada ini memang terbuka untuk umum. Selain Sekolah Alam, sejumlah sekolah yang ada di Kecamatan Limo dan Cinere juga kerap menyewa kolam renang ini.

Menggapi masalah itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Muhamad Hafids Nasir mengatakan, selama ini belum ada data yang jelas mengenai sumber daya manusia (SDM), baik tenaga pengajar dan lainnya di sekolah non Formal yang di sampaikan Dinas Pendidikan kepada Dewan.

Padahal, dengan adanya catatan tersebut pihaknya mampu memberikan evaluasi bagi sekolah non formal di depok.

“Data itu belum ada karenanya kami tersue mendorong unutk terealisasinya hal tersebut,” ungkapnya.

Kejadian ini harus di usut tuntas, walau sekolah nono formal, segala standar yang telah di tetapkan pada kurikulum 2013 mesti pula diikuti oleh sekolah tersebut. “Paling tidak ada beberapa hal yang harus dipenuhi sekolah non formal, sama seperti sekolah regular, kami akan terus mengawasi kasus ini,” tutupnya. (bry./radardepok)