Warga Tirtajaya Padati Gebyar Akta Kelahiran

MENDATA: Aparatur Kelurahan Tirtajaya mencatat data warga yang hendak mengurus akta kelahiran, kemarin.
MENDATA: Aparatur Kelurahan Tirtajaya mencatat data warga yang hendak mengurus akta kelahiran, kemarin.
MENDATA: Aparatur Kelurahan Tirtajaya mencatat data warga yang hendak mengurus akta kelahiran, kemarin.

POJOKSATU.id, DEPOK – Ratusan warga Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya, memanfaatkan gebyar akta kelahiran di kantor kelurahan setempat, kemarin. Gebyar ini merupakan program Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok, guna memberikan kemudahan bagi warga yang belum memiliki akta kelahiran.

Meski bertujuan memudahkan warga, namun sayangnya waktu pelaksanaan yang diberikan kurang dari satu hari, membuat banyak warga yang tidak bisa membuat akta secara gratis.

“Surat pemberitahuan baru datang dari Disdukcapil kemarin (Kamis, 20/8), itu pun sudah sore. Kami langsung nyebarin ke RT/RW. Hari ini kami diberi waktu hanya sampai jam 12:00 siang. Makanya banyak warga yang nggak sempat datang,” kata Sekretaris Kelurahan (Sekkel) Tirtajaya Mad Sohi, mewakili Lurah H. Ayi Mukarom, kemarin.

Lantaran waktu yang diberikan begitu singkat, aparatur kelurahan pun terpaksa melakukan pendataan dengan cepat. Yang terpenting, kata Mad Sohi, seluruh kelengkapan administrasi pemohon yang diperlukan terpenuhi.


“Data terakhir kurang lebih 150 pemohon. Jumlah ini sebenarnya bisa bertambah karena ada warga yang terbentur dengan kerja. Program jemput bola seperti ini memang memudahkan warga,” katanya.

Dalam brosur pedoman tata cara pembuatan akta pencatatan sipil, bagi warga yang ingin membuat akta kelahiran harus memenuhi persyaratan, seperti mengisi formulir dan menandatangani register akta kelahiran.

Menyertakan surat keterangan kelahiran dari kelurahan, kemudian surat keterangan lahir dari rumah sakit/puskesmas/klinik, fotokopi KTP KK dengan catatan nama nama yang bersangkutan, fotokopi KTP orangtua atau si pemohon.

Kemudian syarat lainnya, fotokopi KTP dua orang saksi, dan surat kuasa bermaterai 6000 apabila mendaftarkan bukan orangtua kandung. Serta fotokopi kutipan buku nikah/akte perkawinan yang dilegalisir.

“Seluruh syarat ini harus dipenuhi warga bila ingin membuat akta kelahiran. Prosedur tetap harus dilengkapi,” kata Mad Sohi.

Sementara itu, salah seorang pembuat akta kelahiran, Dewi, yang bermukim di RT03/06, meminta kepada organisasi perangkat daerah (OPD) apabila ingin menggulirkan program hendaknya diinformasikan sejak jauh hari.

“Kalau kayak gini kan kita jadi buru-buru. Juga waktu pelaksanaannya diperpanjang, biar banyak lagi warga yang bisa buat,” kata Dewi. (ram/radardepok)