Rumah Kinih Roboh

MIRIS : Kinih (55) didampingi Ketua RT1/2, Yahya melihat kondisi suaminya Kaming yang sakit di warungnya RT1/2 Kelurahan Pengasinan, Sawangan, kemarin.
MIRIS : Kinih (55) didampingi Ketua RT1/2, Yahya  melihat kondisi suaminya Kaming yang sakit di warungnya RT1/2 Kelurahan Pengasinan, Sawangan, kemarin.
MIRIS : Kinih (55) didampingi Ketua RT1/2, Yahya melihat kondisi suaminya Kaming yang sakit di warungnya RT1/2 Kelurahan Pengasinan, Sawangan, kemarin.

POJOKSATU.id, DEPOK– Kinih (55) hanya tertunduk lesu melihat sang suami, Kaming (85) terbaring sakit  di kasur kecil di ruangan yang kecil juga, sekitar 1.5×2.5 meter. Yang disebelahnya hanya terhalang triplek kayu, langsung kloset untuk buang hajat di warung miliknya di RT1/2 Kelurahan Pengasinan, Sawangan, kemarin.

Bukannya, Kinih dan keluarga tidak memiliki rumah. Rumah yang ditempati bersama suaminya sejak puluhan tahun lalu roboh dinding sebelah kirinya, Kamis (13/7). Karena takut membahayakan keluargannya dan saran dari RT akhirnya Kinih membawa suaminya tinggal di warung yang berada tepat di tepi Jalan Kasiba Lasiba. “Saya ngungsi ke warung sejak dinding roboh, takut atapnya roboh juga pas tidur. Sekarang tinggal sama suami dan anak yang bontot saja,” kata Kinih kepada Radar Depok.

Kinih mengungkapkan, rumah awalnya memang semi permanen, berhubung mendapat rejeki dan dibantu warga dari Perumahan BSI 2, dia langsung memugar rumah sesuai dana yang dimiliki. “Temboknya dulu semeter, sisanya bambu.  Setelah itu ditutup sampai atas, tetapi tidak pakai besi, jadi doyong. ” ungkapnya.

Suaminya yang semula sebagai tukang bangunan memang sudah lama sakit, karena terjatuh saat bekerja dan harus dioperasi. Karena tidak ada dana, akhirnya tidak kesampaian untuk operasi. “Kata orang kaya geger otak, sekali-sekali suka nyambung omongannya dan makannya masih doyan. Tapi sudah setahun terakhir matanya sudah tidak bisa melihat,” terangnya.


Untuk menyambung hidupnya, Kinih membuka warung di tepi Situ Pengasinan, tetapi uang yang didapat per hari hanya cukup untuk makan. Sementara, kedua anaknya sudah menikah dan tidak bisa membantu karena kondisinya juga kesulitan ekonomi. “Cuma cukup buat makan dan kebutuhan sehari-hari saja, buat benerin rumah sudah tidak mampu lagi,” tuntasnya.

Sementara, Ketua RT1/2, Yahya mengatakan, pihaknya memang menyarankan agar keluarga Kaming( 85) tinggal di warungnya sendiri, karena rumahnya sudah membayakan untuk ditempati. Dia menjelaskan, selain dindingnya yang roboh, atapnya sudah lapuk dan disanggah dengan bambu. Untuk itu, dia meminta agar pemerintah, lembaga dan yayasan yang bergerak dibidang kemanusiaan bisa prihatin serta membantu perbaikan rumah Kaming secepatnya. “Jangan sampai saat tidur malam hari malah roboh. Saya prihatin dengan keluarga pak Kaming,” kata Yahya.

Pria yang akrab disapa Goyor menjelaskan, pihaknya sudah mengajukan perbaikan rumah Kaming dua kali dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), tetapi tidak dapat karena secara fisik sudah permanen dan lantainya dipelur. “Tidak di ACC mungkin karena tidak memenuhi kriteria. Padahal rumahnya sudah tua dan mereka tidak ada biaya untuk perbaikan. Kalau ada kepastian bantuan perbaikan RTLH dari yang lain, nanti bisa dialokasikan dulu ke sana,” jelasnya. (cky/radardepok)