Jasad Mario Masih Diidentifikasi

SULIT : Tim SAR saat mengevakuasi salah satu jenazah korban jatuh Trigana Air di Pegunungan Bintang, Papua (19/8). (INSERT) Mario ketika menikah dengan Rani Annisa.
SULIT : Tim SAR saat mengevakuasi salah satu jenazah korban jatuh Trigana Air di Pegunungan Bintang, Papua (19/8). (INSERT) Mario ketika menikah dengan Rani Annisa.
SULIT : Tim SAR saat mengevakuasi salah satu jenazah korban jatuh Trigana Air di Pegunungan Bintang, Papua (19/8). (INSERT) Mario ketika menikah dengan Rani Annisa.

POJOKSATU.id, DEPOK – Suasana duka masih menyelimuti keluarga Mario Rheso Guntoro (36), Mekanik Pesawat Trigana Air yang jatuh di Distrik Okbape, Pegunungan Bintang, Papua, Minggu (16/8) sore. Karangan bunga ucapan bela sungkawa terus berdatangan ke kediaman Mario di Perumahan Cluster Griya 8, Kelurahan Meruyung, Limo, kemarin.
Istri Mario, Rani Annisa (33) masih terpukul dengan kepergian sang suami. Namun demikian, kondisi Rani sekarang lebih stabil ketimbang beberapa hari sebelumnya. Rani sudah bisa berbicara kepada awak media ihwal kepergian sang suami.

     “Kami sekeluarga Insya Allah sudah Ikhlas. Mohon doa dan dukungannya,” ujar dia dengan nada lirih kepada awak media, Rabu (19/7).

Rani mengatakan, terkait kondisi evakuasi jenazah suaminya, hingga saat ini masih menunggu dari pemerintah. Untuk sekarang, kata dia, keluarga memantau proses tersebut lewat media dan kerabat yang pergi ke Papua.
“Belum ada kabar, kapan (jenazah) akan diterbangkan. Sekarang kan baru evakauasi kalau tidak salah. Saya harap Tim SAR segera bisa merampungkan proses pemulangan semua jenazah kepada pihak keluarga,” beber dia.
Ia mengaku tak berangkat ke Papua karena segala keperluan telah diurus kerabatnya yang tinggal di Sentani. Selain itu, kondisi medan di TKP juga tidak memungkinkan bagi dirinya dan keluarga.
Senada, adik kandung Rani, Ahmad Zakaria memahami sulitnya medan yang membikin proses evakuasi sulit. “Medannya memang susah ya karena banyak pegunungan. Kami sudah paham betul jadi tidak bisa juga menekan (Basarnas). Kami hanya menunggu,” ungkapnya.
Ia menegakan keluarga hanya bisa menunggu sampai jasadnya bisa dipulangkan ke Jakarta untuk kemudian dikebumikan. “Rencananya (Mario) dimakamkan di makam keluarga di Parung,” tambah dia.
Seperti diketahui, Pesawat berjenis ATR 42 dengan nomor registarsi PK-YRN lepas landas dari Bandara Sentani Jayapura pukul 14:22 WIT dengan waktu tiba diperkirakan di Oksibil 15:04 WIT, Minggu (16/8). Pada pukul 15:00 WIT Bandara Oksibil melakukan kontak dengan pesawat namun tidak ada jawaban. Bermula dari informasi warga Distrik Okbape, diketahui pesawat mengalami kecelakaan. Pesawat mengangkut 49 penumpang dan 5 orang kru, termasuk di antaranya Mario.
Terpisah, Manajemen Trigana Air mengaku sedang merencanakan pemulangan jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42 miliknya. Menurut Manajer Security Trigana Air, Alfred Purnomo pemulangan jenazah akan dilakukan setelah tim DVI dari Mabes Polri telah berhasil mengidentifikasi korban.
“Kami dari Trigana sedang merencanakan pemulangan jenazah korban IL 267 ke tempat masing-masing. Rencana akan dilakukan segera mungkin setelah identifikasi dari tim DVI diserahkan kepada pihak Trigana,” ujarnya saat jumpa pers di kantornya, Kompleks Puri Niaga Jalan Wiraloka Blok D 68-70, Jakarta, Rabu (19/8).
Alfred menuturkan, pihaknya bersama tim gabungan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengevakuasi jenazah dari lokasi kejadian ke Oksibil.
“Kita akan bekerja selama 24 jam dari lokasi kecelakaan ke Oksibil. Besok juga tergantung cuaca untuk mengeluarkan dari Oksibil ke Sentani,” terangnya.
Kendati telah berhasil mengevakuasi empat jenazah ke Sentani, Alfred mengaku belum bisa memublikasikan nama mereka. “Karena sekarang sedang lanjutan dari DVI, kondisi tidak bisa menyampaikan,” imbuhnya.
Alfred menambahkan, mengenai santunan untuk korban dipenuhi sesuai dengan peraturan yang berlaku.”Kami berusaha semaksimal mungkin memenuhi kewajiban yang ada,” tandasnya.
Hingga kemarin, Tim Basarnas gabungan dan masyarakat setempat berhasil mengevakuasi 54 jenazah koban jatuhnya Pesawat Trigana Air ke pinggir Jalan Distrik Oskop. Kesemua jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang Papua melalui jalan darat. Di antara jenazah yang berhasil dievakuasi ke rumah sakit adalah pramugari Trigana Air.
Keluarga menyambut kedatangan jenazah korban dengan isak tangis. Sebanyak 4 jenazah kini sudah diterbangkan ke Jayapura menggunakan pesawat Trigana Air.
Sementara itu, evakuasi jenazah terus dilakukan dari pinggiran Jalan Distrik Oskop ke Rumah Sakit Oksibil dengan jalan darat selama 2 jam perjalanan. Sampai berita ini disusun sudah 30 jenazah yang sudah berhasil dievakuasi ke rumah sakit.
Adapun pesawat Trigana Air yang mengangkut keempat jenazah mendarat di Lanud Jayapura sekitar pukul 17:00 WIT. Jenazah-jenazah itu kemudian diserahterimakan oleh Kepala Basarnas kepada Kapolda Papua Brigjen Paulus Waterpaw untuk selanjutnya diidentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara.
Keempat jenazah diberangkatkan dari Bandara Oksibil setelah dievakuasi dari lokasi kecelakaan melalui jalur darat. Proses evakuasi dari titik jatuhnya pesawat di Kampung Oskop, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang memakan waktu sekitar 5 jam.
Selain jenazah, salah satu bagian kotak hitam, yakni cockpit voice recorder (CVR) sudah berhasil dievakuasi ke Oksibil dan diserahkan kepada Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Pukul 17:20, empat jenazah tiba di Sentani, Jayapura,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan JA Barata mengkonfirmasi berita ini di Jakarta, Rabu (19/8).
Barata menambahkan, sebelumnya pada pukul 16:00 IW empat jenazah tersebut sempat tiba di Oksibil pukul 14:14 WIT dan didentifikasi awal oleh tim identifikasi korban bencana (DVI) pada pukul 14:14 WIT di RSUD Oksibil.
Dia mengatakan jenazah diperbaharui kantong jenazahnya, langsung dibawa ke Jayapura dengan pesawat Trigana ATR 42-300 PK YRR. “Ikut dalam pesawat tersebut Kapolda Papua, Pangdam Cendrawasih, Ketua KNKT, Kabasarnas dan beberapa pejabat lain,” ujarnya.(jun/hmi/jpnn/kcm/oz/radardepok)