Kemetrologian BDKT Buka Peluang Pasar Lebih Besar

MEMAPARKAN: Kepala Sub bagian Tata Usaha Balai Kemetrologian Bogor, Arif Muhamad Fajar memberikan materi sosialisasi kemetrologian Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT) di Kantor Disperindag Kota Depok Gedung Dibaleka II, kemarin.
MEMAPARKAN: Kepala Sub bagian Tata Usaha Balai Kemetrologian Bogor, Arif Muhamad Fajar memberikan materi sosialisasi kemetrologian Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT) di Kantor Disperindag Kota Depok Gedung Dibaleka II, kemarin.
MEMAPARKAN: Kepala Sub bagian Tata Usaha Balai Kemetrologian Bogor, Arif Muhamad Fajar memberikan materi sosialisasi kemetrologian Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT) di Kantor Disperindag Kota Depok Gedung Dibaleka II, kemarin.

POJOKSATU.id, DEPOK – Pentingnya peranan pengukuran barang dalam kemasan yang tepat bagi kemajuan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Depok menggelar sosialisasi kemetrologian Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT) di Kantor Disperindag Kota Depok Gedung Dibaleka II, kemarin.

Sasaran sosialisasi yang dilakukan dua hari 12-13 Agustus diperuntukan kepada pengusaha kecil dan menengah yang tegabung dalam kelompok binaan Disperindag.

Kabid Kemetrologian dan Perlindungan Konsumen Disperindag Kota Depok, Fentu Novita mengatakan, ini merupakan kegiatan rutin tiap tahun dari bagian Kemetrologian guna meningkatkan kesadaran pentingnya kemetrologian BDKT.

            “Ini upaya preventif pemerintah kota untuk memberikan pemahaman bagi pengusaha di Kota Depok, pentingnya kemetrologian BDKT,” ungkap Fentu pada Radar Depok, kemarin.

Menurut Fentu, memerhatikan timbangan BDKT banyak keuntungan yang didapat pengusaha. Seperti persiapan pengusaha masuk dalam lingkup pasar yang lebih besar. “Selain menjalankan peraturan penggunaan ukuran yang tepat dan sesuai barang dagangan para pengusaha juga dapat masuk ke pasar swalayan maupun ke kota lain,” ujarnya.


Kasi Kemtrologian Disperindag Kota Depok, Sarmadi menambahkan, kegiatan tahun ini ada 200 pelaku usaha yang akan diberikan sosialisasi ini. “Sesuai Undang-Undang tentang metrologi legal dan aturan menteri perdagangan tentang tera dan tera ulang semua satuan ukur harus standar internasional,” ungkapnya.

Ditempat sama, Kepala Sub bagian Tata Usaha, Balai Kemtrologian Bogor, Arif Muahamad Fajar menjelaskan dari hasil sosialisasi yang dilakukan kali ini, terlihat banyak  pengusaha yang masih awam dengan pengukuran atau penteraan BDKT.

“Masih banyak pelaku UKM yang belum meyeluruh mengetahui tatang bagaimana mengukur dan cara penulisan informasi kemasan barang mereka,” jelanya.

Karenanya, menurut dia tidak hanya sosialisasi ini sangat penting untuk dilakukan secara konsisten. “Bagi pengusaha yang tak patuh tentunya dapat dikenai cara-cara represif seperti Undang-Undang yang mengatur metrologi legal.

“Seperti contoh, cara penulisan satuan berat dalam gram  sesuai standard internasiona yang masih banyak salah, seharusnya gram itu ditulis dengan huruf g kecil bukan huruf g besar atai gr,” bebernya.

Sementara itu, Bagian Penera Kementrian Perdagangan Direktorat Metrologi, Anggia Anggraeni menjelaskan barang dalam kemasan para pelaku usaha tidak hanya diukur, timabangan yang digunakan untuk mengukur juga harus sesuai dan harus ditera ulang tiap tahunnya.

“TImbangannya pun harus sesuai, dan tiap tahunnya timbangan juga harus di periksa kembali apakah masih sesuai atau tida,” tutupnya.(bry/radardepok)