Jarod Larang Go-Jek Masuk Rivaria

LARANGAN : Anggota Jarod saat mangkal di Pangkalan Ojek Jarod pintu masuk Perumahan Rivaria Kelurahan/Kecamatan Sawangan, kemarin.
LARANGAN : Anggota Jarod saat mangkal di Pangkalan Ojek Jarod pintu masuk Perumahan Rivaria Kelurahan/Kecamatan Sawangan, kemarin.
LARANGAN : Anggota Jarod saat mangkal di Pangkalan Ojek Jarod pintu masuk Perumahan Rivaria Kelurahan/Kecamatan Sawangan, kemarin.

POJOKSATU.id, DEPOKĀ – Perusahaan Go-Jek yang telah berdiri sejak 2011 dan merilis aplikasinya pada awal 2015 terus di menuai kontroversi. Di Kecamatan Sawangan, pengojek yang tergabung dalam Jasa Angkutan Roda Dua (Jarod) melarang Go-Jek masuk dan mengambil sewa di Perumahan Rivaria Kecamatan Sawangan, caranya dengan memasang spanduk di depan pangkalan. Adanya Go-Jek dinilai penghasilan pengojek yang mangkal di pintu masuk Perumahan Rivaria turun drastis hingga 50 persen, ketika Go-Jek mengambil sewa.

“Penghasilan sehari paling Rp50 ribu, begitu Go-Jek masuk menurun sampai cuma dapat Rp20 ribu, itu pun sampai sore,” kata salah satu pengojek di Pangkalan Jarod Rivaria, Cepi kepada Radar Depok, kemarin.

Dia menuturkan, saat masih dibiarkan, Go-Jek bisa sampai 20 keluar masuk Rivaria dan pihaknya cuma jadi penonton. Padahal, lanjut Cepi, dia sudah mengojek sejak 16 tahun lalu, “Padahal penghasilan utama kami cuma dari warga Rivaria,” tuturnya.

Dia menambahkan, terkait pemberitaan dan pelaporan salah seorang Go-Jek yang diamuk pengojek di pangkalan Jarod tidak benar. “Bisa-bisa mereka saja membesarkan dalam laporan,” imbuhnya.

Kata Cepi, anggota Jarod tidak melarang Go-Jek melintas di Jalan Raya Muchtar, tetapi untuk masuk ke Rivaria, lain ceritanya. “Sekarang sudah jarang, kalau ada kami tegur dan tidak boleh sampai masuk ke Rivaria, kan sudah dibuat spanduk larangannya,” tegas dia.


Penasihat Pangkalan Jarot, H Romli mengaku, kasihan dan prihatin dengan adanya Go-Jek, karena menjatuhkan tarif dan mengurangi pendapatan. “Penghasilannya disini saja dan , mengharapkan warga Bedahan, khususnya warga Rivaria. Jangan sampai mengambil sewa di sini,” kata H Romli Andi Sanjaya.

Ketua RW1 Kelurahan Bedahan itu juga mengatakan, tiap organisasi atau perkumpulan, termasuk Jarod memiliki aturan dan tata tertib. Selain itu, tidak ada koordinasi dengan pengojek di Rivaria. “Banyak keluhan dari pengojek di sini. Satu jam saja paling dapat Rp5 ribu,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, saat ini sudah ada 78 pengojek yang biasa mangkal di Jarod. Untuk itu, dia memohon kesadaran para Gojek untuk tidak memasuki wilayah ojek Rivaria. “Kalau di jalan raya, tidak ada masalah, itu kan bebas. Sama halnya dengan angkot. Ketika jalur D03 dimasuki D02, pasti tidak dibolehkan,” tuntasnya.

Terpisah, Salah seorang Go-Jek yang ditemui Radar Depok di Jalan Raya Muchtar, Suherman menuturkan, untuk jasa sewa tergantung konsumen yang mengorder. Sementara, dia hanya mengikuti operator. “Kami kan datang berdasarkan arahan dari operator,” kata Herman.

Herman menambahkan, ketika ada penolakan, dia bisa menolak orderan yang diberikan operator. “Kalau sampai membahayakan keselamatan, apalagi ada zona yang memang menolak keberadaan kami,” tutupnya. (cky/radardepok)