Aktivitas Sekolah Disetop Warga

SEPAKAT: Warga Kelurahan Leuwinanggung mendatangi lokasi sekolah yang tidak sesuai perizinan. Pihak Yayasan Yumitra, warga, dan pihak kelurahan mengadakan pertemuan dan menyepakati aktivitas disetop.
SEPAKAT: Warga Kelurahan Leuwinanggung mendatangi lokasi sekolah yang tidak sesuai perizinan. Pihak Yayasan Yumitra, warga, dan pihak kelurahan mengadakan pertemuan dan menyepakati aktivitas disetop.
SEPAKAT: Warga Kelurahan Leuwinanggung mendatangi lokasi sekolah yang tidak sesuai perizinan. Pihak Yayasan Yumitra, warga, dan pihak kelurahan mengadakan pertemuan dan menyepakati aktivitas disetop.

POJOKSATU.id, DEPOK – Puluhan warga mendatangi lokasi sekolah TK/KB Permata Bunda yang berlokasi di RT02/01 Kelurahan Leuwinanggung, Tapos, kemarin.

Mereka meminta pihak yayasan untuk menghentikan aktivitas sekolah selama belum mengantongi izin. Warga pun dimediasi oleh Bhabinkamtibmas Kelurahan Leuwinanggung dan aparatur kelurahan setempat untuk melakukan pertemuan dan pembicaraan dengan perwakilan dari yayasan.

Ketua RW01, Ahmad, mengatakan, warga ingin di lokasi tidak ada kegiatan apa pun selama proses perizinan belum ditempuh. Warga merasa kecolongan dan telah dibohongi, karena informasinya lokasi tersebut untuk arena futsal. Ternyata malah berdiri sekolah dan telah melakukan aktivitas kegiatan belajar mengajar.

    “Kami ingin suasana kondusif dan tidak anarkis. Warga Leuwinanggung dari dulu damai, aman, dan kondusif, tapi sekarang jadi resah karena ada sekolah ini. Izin baru sebatas lisan buat futsal. Kami sudah datang ke sekolah tapi malah dijawab nggak tahu mengenai masalah perizinan. Kan seharusnya mereka menempuh perizinan sesuai mekanismen baru melakukan aktivitas,” kata Ahmad.

Ketua RT03/01 Junaedi menambahkan, pihaknya juga meminta kepada yayasan untuk menutup sekolah dan tidak melakukan kegiatan selama izin belum selesai.


“Kami minta stop dulu. Ini permintaan dari warga, berdasarkan masukan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan warga. Begitu juga dengan rencana kegiatan drumband dan karnaval. Ini jelas sudah menyalahi perizinan,” tegasnya.

Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Leuwinanggung, M Robertson Purba,  menegaskan, kegiatan di sekolah tersebut memang belum bisa dilegalkan dan dilaksanakan operasionalnya, karena tidak memenuhi persyaratan administrasi.

“Otomatis, mau tidak mau harus diberhentikan. Untuk sementara diberhentikan selama belum terpenuhinya segala perizinan administrasi. Jaga jangan sampai ada provokasi,” tuturnya.

Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum Kecamatan Tapos, Suhari, juga meminta kegiatan dihentikan. Jika memang ingin beraktivitas kembali, harus menempuh proses sesuai dengan izin.

“Pihak yayasan juga jangan menyalahi perizinan. Izinnya kan untuk lapangan futsal, kenapa tiba-tiba jadi sekolah?” katanya.

Sementara, Perwakilan Yayasan, Mustar, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan menegaskan akan menghentikan kegiatan di sekolah, termasuk rencana aktivitas sekolah menyambut HUT Kemerdekaan.

“Area sekolah akan ditutup dan rencana lomba-lomba dibatalkan. Pihak yayasan dalam satu atau dua hari ke depan rencananya akan mengadakan pertemuan dengan warga di kelurahan mengenai proses perizinan,” tuturnya.

Pelaksana Harian Kepala Sekolah, Ika, menambahkan, sekolah yang merupakan pindahan dari Perumahan Bukit Golf, Gunung Putri, Bogor, baru menjalankan aktivitas sekolah Juli lalu dan menampung sekitar 20 siswa.

“Kami siap tidak melakukan aktivitas apa pun,” singkat Ika. (eru/radardepok)