Uzoma Terancam Dihukum Mati

SIDANG PERDANA: Uzoma Elele Alpha alias Uzo (kanan) saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok, kemarin. Warga negara asing (WNA) asal Nigeria ini diamankan atas dasar kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu dan ganja dalam jumlah besar.
SIDANG PERDANA: Uzoma Elele Alpha alias Uzo (kanan) saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok, kemarin. Warga negara asing (WNA) asal Nigeria ini diamankan atas dasar kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu dan ganja dalam jumlah besar.
SIDANG PERDANA: Uzoma Elele Alpha alias Uzo (kanan) saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok, kemarin. Warga negara asing (WNA) asal Nigeria ini diamankan atas dasar kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu dan ganja dalam jumlah besar.

POJOKSATU.id, DEPOK – Uzoma Elele Alpha alias Uzo (33) nampak tegang saat dibawa petugas Kejaksaan Negeri (Kejari)Kota Depok, dari tahanan sementara Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok menuju ruang sidang utama PN Depok, kemarin siang. Hanya mengenakan sandal jepit, pria berbadan tinggi itu selalu di dampingi Edward Adi, sang penerjemah bahasa.

Uzoma adalah warga negara asing (WNA) asal Nigeria yang pada 16 Desember tahun lalu, diamankan petugas Tim Penanganan Orang Asing (Timpora) kala menggelar razia di Apartemen Margonda Residence 2. Dia diamankan atas dasar kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu dan ganja dalam jumlah besar. Total dirinya memiliki sebanyak 4.075,9 gram (4 Kg) sabusabu dan 301,1 gram ganja senilai Rp6 miliar.

Zat psikotropioka itu ia sembunyikan di dalam lemari yang disulap menyerupai kasur. Di Apartemen Margonda Residence 2, dia memiliki dua kamar : nomor 1929 dan 1917. Dan hari itu, kemarin, dirinya menjalani sidang perdana yang dipimpin Hakim Ketua, Hariono dan dua hakim anggota, yakni Selviana Purba dan Hasanudin.Agenda sidang ialah pembacaan dakwaan yang dikenakan kepada Uzoma serta mendengarkan keterangan sejumlah saksi.

Pria yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu dikenakan pasal berlapis. Ia dikenakan pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2, dan pasal 111 ayat 1 Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati.“Dari pasal tersebut, dia (terdakwa) bisa dihukum mati,” ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU), Arnold Siahaan kepada Radar Depok selepas sidang.Saat proses persidangan, diluar pembacaan dakwaan, menyembul sejumlah fakta mencengangkan dari kasus ini. Analis Intelejen Taktis Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok, Yayan Kusnadi yang turut hadir sebagai saksi mengungkap jika barang haram milik terdakwa dipasok dari Lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang.


Adalah Tobe alias Bintang yang menyuplai seluruh narkoba kepada Uzoma. Sebagai informasi, Tobe adalah terdakwa kasus narkoba yang sudah divonis penjara selama 25 tahun. Sama seperti Uzoma, Tobe juga WNA asal Nigeria. “Narkoba itu memang berasal dari LP Cipinang,” kata dia.Lalu, bagaimana caranya narkoba dalam jumlah besara itu bisa mulus keluar LP ? Jawabannya muda, lewat jasa kurir. Yaya menerangkan, kurir yang dimaksud adalah sosok mahasiswi bernama Kasih Herawati yang kini mendekam di sel BNN Pusat, Cakung, Jakarta Timur. Guna mengelabui petugas, sabu-sabu tersebut dibalut rapi ke dalam bungkusan susu.

Saat akan menjual ke pembeli, Uzoma juga akan menggunakan siasat penyamaran. Dia memakai kereta dorong bayi untuk membawa barang haram itu sampai ke pelanggan. “Cara menjualnya menggunakan kereta dorong bayi,” jelasnya.Ditanya hubungan Kasih dengan Tobe ataupun Uzoma, Yayan menuturkan jika mahasiswi jurusan psikologi ini mengaku memacari kedua pria asal benua Afrika ini.Tidak hanya sebagai kurir, peran Kasih dalam bisnis ini juga terbilang vital.

Dialah sosok yang mencarikan Uzoma tempat tinggal, hingga akhirnya menetap di Margonda Residence 2. Meski begitu, kepaada petugas, Kasih mengatakan jika baru selama dua bulan ini menjadi kurir narkoba. “Petugas dari BNN Pusat terus memeriksa keterlibatan perempuan ini dalam bisnis itu,” jelasnya.Pada sidang hari itu, selain menghadirkan Yayan sebagai saksi. Majelis Hakim juga mendatangkan tiga saksi lain, yakni Kasi Wasdakim Kantor Imigrasi Kota Depok Arief Hidayat serta dua petugas keamanan Margonda Residence : Dian Aryandi dan Titus Adi.

Uzoma Tak Menunjukan Gelagat Panik Hukum di Indonesia tengah galak. Seperti diketahui bersama, Pemerintah tak mentolelir kejahatan luar biasa seperti narkoba. Hukuman sangat tegas : mati. Tak peduli jika memang seorang WNA yang menjadi pelakonnya.Dan Bagi Uzoma, bukan tidak mungkin hidupnya bisa berakhir di tangan para algojo. Karena memang, narkoba yang ia pegang kadarnya sangat banyak.

Menyoal ini, penerjemah bahasa Uzoma, Edwarda mengatakan jika kliennya itu tak menunjukan rasa takut. Artinya sejauh ini Uzoma masih menunjukan sikap biasa saja.“Yang saya lihat dia biasa saja kok,” paparnya. Meski demikian, dirinya tak ingin mengorek lebih dalam tentang perasaan hati Uzoma. “Itu bukan urusan saya. Saya hanya menjalankan tugas sebagai penerjemah bahasa,” beber dia. (jun)