Meningkatkan Keselarasan Antar Dokter

B AHAS PENGOBATAN: Syarifuddin Laingki didampingi salah satu pasien, Ahmad (50) yang menceritakan pengalamannya menggunakan alat cuci darah atau hemodialisis di Aula RSTI, Sabtu (25/4).
B AHAS PENGOBATAN: Syarifuddin Laingki didampingi salah satu pasien, Ahmad (50) yang menceritakan pengalamannya menggunakan alat cuci darah atau hemodialisis di Aula RSTI, Sabtu (25/4).
B
AHAS PENGOBATAN: Syarifuddin Laingki didampingi salah satu pasien, Ahmad (50) yang menceritakan pengalamannya menggunakan alat cuci darah atau hemodialisis di Aula RSTI, Sabtu (25/4).

POJOKSATU.id, Sem inar tersebut dibuka Direktur Umum PT Tugu Ibu, H. Maris Rinaldi dan Direktur RSTI, Peppy R. Firaidie. Tampak hadir tiga dokter pembicara, yaitu Syarifuddin Laingki, Salman Paris, dan Tria Setiari Singgih.

Diketahui, peserta seminar merupakan para dokter umum di rumah sakit, puskesmas, klinik dan PPK TK I (pusat pelayanan kesehatan tingkat I) di Kota Depok dan sekitarnya seperti Jakarta Timur, Cibinong, dan Jakarta Selatan.

“Tujuannya untuk meningkatkan hubungan yang selaras antara dokter umum di PPK TK I, dokter umum di Puskesmas, dokter umum di Rumah Sakit serta untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pengetahuan ilmu kedokteran terkini khususnya tentang Chronic Kidney Disease (gagal ginjal kronis),” ungkap H. Maris Rinaldi.

Penyakit gagal ginjal kronis biasanya terjadi secara perlahan-lahan sehingga biasanya diketahui setelah jatuh dalam kondisi parah. Gejala-gejala fungsi ginjal memburuk juga tidak spesifik, mungkin termasuk perasaan kurang sehat, nafsu makan berkurang.


Seringkali, penyakit ginjal kronis didiagnosis sebagai hasil skrining dari orang yang berada di risiko masalah ginjal, seperti darah tinggi atau diabetes dan mereka yang memiliki hubungan darah dengan penyakit ginjal kronis.

“Penyakit ginjal kronis juga dapat diidentifikasi ketika mengarah ke salah satu komplikasi, seperti penyakit kardiovaskuler, anemia atau perikarditis.

Untuk mengidentifikasi penyakit ginjal kronis diperlukan pemeriksaan Laboratorium untuk tes darah, sementara untuk mengetahui penyebab kerusakan ginjal dapat dilakukan berbagai bentuk pencitraan medis (USG, CT-Scan), dan jika diperlukan dilakukan biopsi ginjal,” papar salah satu pembicara, Syarifuddin Laingki.

Selain membahas tentang penyebabnya, tanda-tanda, cara mengidentifikasi, cara pengobatan, juga di bahas tentang komplikasi dari pengobatan yang dilakukan serta kekurangan dan kelebihan dari pengobatan yang dilakukan.

“Diharapkan dengan Kegiatan seminar ini, para dokter umum dapat makin mengetahui perihal keseluruhan dari penyakit gagal ginjal kronis, sehingga dapat memberikan pelayanan yang profesional kepada masyarakat,” pungkasnya. (*)