9800 Obat ”Terlarang” Disita

BARANG BUKTI: Kasat Narkoba Polresta Depok, Kompol Josephein Vivick Tjangkung menunjukan barang bukti sebanyak 9.800 butir obat yang berhasil disita, kemarin.
BARANG BUKTI: Kasat Narkoba Polresta Depok, Kompol Josephein Vivick Tjangkung menunjukan barang bukti sebanyak 9.800 butir obat yang berhasil disita, kemarin.
BARANG BUKTI: Kasat Narkoba PolrestaDepok, Kompol Josephein Vivick Tjangkung menunjukan barang bukti sebanyak 9.800 butir obat yang berhasil disita, kemarin.

POJOKSATU.id, DEPOK – Ini perlu mendapat perhatian pihak berwenang untuk bisa mengawasi penjualan obat di sejumlah apotik diKota Depok. Kemarin, jajaran Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Satuan Narkoba Polresta Depok menggerebek sebuah toko obat di Jalan Abdul Wahab, Kelurahan Kedaung, Sawangan.

Kasat Narkoba Polresta Depok, Kompol Josephein Vivick Tjangkung menjelaskan, pihaknya berhasil menyita sebanyak 9.800 butir obat penenang, termasuk di dalamnya ratusan butir pil KB. Bersama barang bukti pihaknya juga mengamankan Y Chen(40), pemilik toko obat tersebut.

“Kami dapat laporan jika toko obat ini menjual obat penenang tanpa resep dokter kepada pemuda usia pelajar,” ungkapnya kepada Radar Depok, kemarin.Dikatakannya, usai mendapat informasi dari warga, pihaknya mengintai toko obat itu sekitar tiga minggu. “Barulah kemudian kami gerebek lokasinya. Warga mengaku risih dengan aktivitas hilir mudik pemuda disana,” tutur dia.

Lebih jauh, kata dia, jika dikonsumsi secara rutin. Obat-obat ini efeknya akan sama seperti narkoba, seperti menimbulkan ketagihan serta akan mengurangi gairah hidup jika berhenti mengonsumsi.“Belakangan, toko obat ini sudah setahun beroperasi. Pil KB yang kami sita juga biasa dijual ke kalangan pelajar,” bebernya.


Kepada polisi, Y mengaku tidak berniat untuk menjual obat itu ke kalangan muda. Tapi semakin hari, pembeli dari kalangan ini cukup banyak. Tergiur akan banyaknya untung yang bakal diperoleh, dirinya kemudian membebaskan penjualan.Satu paket obat berisi tujuh butir pil dan dijual seharga Rp10 ribu. Jika dikalkulasi, 9.800 obat yang disita bernilai Rp10 juta.

Untuk modal, pelaku menyiapkan Rp6 juta. “Nah, Rp4 juta sisanya merupakan keuntungan dari hasil penjualan. Kami bisa menyelematkan sekitar 900 anak dengan hasil penggerebekan ini,” tambah Vivick.Atas perbuatannya, pelaku bakal dijerat Undang-undang Kesehatan No 36 tahun 2009 dengan ancaman denda maksimal Rp100 juta. (jun)