Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun,Sempat Mati Suri, Muriyah Tutup Usia

BACAKAN DOA: Lurah Limo Danudi Amin, kader PKK Limo dan sanak keluarga sedang membacakan yang terbaik untuk kondisi Muriyah di Jalan Rotan RT6/3 Kelurahan/ Kecamatan Limo, saat terjadi anfal, Senin (21/4) pagi.
BACAKAN DOA: Lurah Limo Danudi Amin, kader PKK Limo dan sanak keluarga sedang membacakan yang terbaik untuk kondisi Muriyah di Jalan Rotan RT6/3 Kelurahan/ Kecamatan Limo, saat terjadi anfal, Senin (21/4) pagi.
BACAKAN DOA:Lurah Limo DanudiAmin, kader PKKLimo dan sanakkeluarga sedangmembacakan
yang terbaik untukkondisi Muriyah di Jalan Rotan RT6/3 Kelurahan/ Kecamatan Limo, saat terjadi anfal, Senin (21/4) pagi.

POJOKSATU.id DEPOK – Guru dan khalayak se-Kecamatan Limo berduka. Kemarin, sekitar pukul 17:00 WIB, Muriyah (55) yang berprofesi guru di SDN Meruyung akhirnya tutup usia, setelah mengalami mati suri, Ahad (19/4) pagi. Kepastian itu didapat setelah sejumlah Kader PKK Kelurahan Limo yang mengantar almarhumah ke RS Persahabatan, memberikan kabar seputar Muriyah.

“Ya,beliau wafat tadi (kemarin ujar Kader PKK Kelurahan Limo, Siti Komariah kepada Radar Depok, kemarin. Titi-sapaannya- menjelaskan, kondisi kesehatan almarhum memang terus terjadi penurunan. Akhirnya, jelas dia, kader bersama keluarga melarikan almarhum ke RS Persahabatan. Saat dilakukan pemeriksaan kondisinya terus menurun. Dan sekitar pukul 17:00 WIB, yang bersangkutan menghembuskan nafas terakhirnya.

“Kader berusaha agar almarhum bisa membaik kondisinya, tapi saat dibawa ke rumah sakit malah tutup usia. Mungkin ini sudah menjadi jalan Allah yang terbaik untuk almarhum dan keluarga,” tambah Titi. Terpisah, Ketua Kelompok Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Limo Zaenudin menyebutkan sebagai seorang guru tentunya almarhum sudah menelurkan sejumlah siswa yang berprestasi. Dan semua itu dilakukan hanya untuk mengabdi agar anak-anak di wilayah Limo dan Depok tetap cerdas.

Tugas mulianya sebagai guru patut dijadikan suri tauladan. Sebab, selama mengajar Kelas II SDN Meruyung almarhum layak disebut guru tanpa tanda jasa. Kenapa, itu dikarenakan almarhum tidak pernah mengeluh. Apalagi saat sebelum diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), almarhum terus mendalami profesinya. “Saya mengucapkan turut belasungkawa, semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan kuat. Sebagai guru almarhum patut dicontoh,” pungkasnya.


(hmi)