Pelaku Diciduk di Bojonggede

Rio Santoso tertunduk malu saat diciduk polisi
Rio Santoso tertunduk malu saat diciduk polisi
Rio Santoso tertunduk malu saat diciduk polisi

Berprofesi sebagai Guru Bimbel Matematika

POJOKSATU.id, DEPOK – Misteri pembunuhan janda cantik asal Depok, Deudeuh Alfi Syahrin (26) akhirnya terungkap. Polisi berhasil menciduk M Prio Santoso alias Rio Santoso (24) dikawasan Jalan Batu Tapak I RT 001/011 Bojonggede. Rio, yang diketahui berprofesi sebagai guru bimbingan belajar Matematika ini ditangkap sekitar pukul 03:30 kemarin. Rio adalah satu dari sekian banyak “tamu” yang sering berkunjung ke tempat Alfi. Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Albert Sianipar mengatakan, jejak pelarian Rio tercium melalui handphone milik Alfi yang dibawanya. “Dengan hasil cek posisi handphone milik korban, diketahui ada di wilayah Bojonggede.

Ternyata setelah dilakukan penyelidikan, tersangka ada di salah satu kos, dilakukan penangkapan,” ujar Albert kepada awak media di Mapolda Metro Jaya, kemarin. Terkait motif pembunuhan terhadap korban, Kepala Subdirektorat Kejahatan dengan Tindak Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan mengatakan ada tiga kemungkinan Rio mengabisi nyawa Alfi. “Pertama, pelaku tersinggung karena korban mengatakan badan tersangka bau. Mendengar perkataan itu, pelaku marah dan mencekik korban lalu melilit lehernya menggunakan kabel,” jelas dia kepada wartawan.

Herry menjelaskan, motif selanjutnya adalah ketika korban menggigit pelaku saat dicekik. Upaya perlawanan Alfi ini membikin Rio makin naik pitam. “Pelaku yang sudah marah semakin marah setelah mendapat gigitan itu. Pelaku pun semakin kencang menjerat leher korban dengan kabel dan menyumpal mulut korban dengan kaus kakinya,” papar dia. Sedangkan alasan terakhir membunuh Alfi dipicu hasrat menguasai benda-benda berharga milik korban. Hal itu mengacu setelah korban tewas, pelaku meninggalkan korban di kamar dengan membawa sejumlah barang berharga milik korban. “Di antaranya empat ponsel, satu sabak digital (tablet), satu laptop MacBook, dan uang tunai Rp 2,8 juta. Kami temukan barang-barang itu saat menangkap pelaku,” ujarnya. Seperti diketahui, Alfi ditemukan tak bernyawa Sabtu (12/4) malam di kosannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.


Dari hasil otopsi dan hasil visumnya, diketahui kalau dia diduga kuat tewas kehabisan oksigen lantaran dibekap. Alfi dibunuh dengan cara dibekap dimulut dan hidungnya. Entah itu menggunakan kain ataupun barang lainnya. Minggu pagi, jenazah Alfi disemayamkan di kediaman kaka kandungnya di Jalan STM, Gang Manggah, RT05 RW12, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas. Ia lantas dimakamkan di TPU Wakaf Kampung Lebak, RT06 RW12, Kelurahan Depok, tak jauh dari rumah kakak korban. Dari Depok, Keluarga Alfi menanggapi kabar penangkapan pembunuhnya dengan emosional. Sang kakak ipar, Nurhasanah, bahkan sampai meneteskan air mata. “Alhamdulillah banget, bersyukur sama Allah. Sudah ketahuan pembunuhnya ditangkap. Saya nangis pas tahu pelakunya udah ditangkap,” kata Nurhasanah saat ditemui di kediamannya di Pancoranmas, kemarin.

Nurhasanah mendengar kabar penangkapan RS, pembunuh Deudeuh tadi pagi. Namun mereka belum mendengar informasi langsung dari polisi. “Tahunya dari situs berita, kalau dari polisi belum,” terang wanita berkacamata ini. Sebetulnya, Nurhasanah sudah merasakan firasat tertentu terkait kabar tertangkapnya si pembunuh. Sejak semalam, suami Nurhasanah tidak bisa tidur nyenyak. “Suami saya tidak bisa tidur gitu dan gelisah,” terangnya. Adapun sang suami, Muhammad Iqbal mengatakan pihak keluarga keberatan Deudeuh Alfi Sahrin disebut wanita panggilan online, seperti ramai diberitakan. Tapi, mereka tak bisa berbuat apa-apa. “Zaman sudah berubah. Segalanya serba cepat, menghakimi,” kata Iqbal, kakak kandung Alfi, kemarin. Meski keberatan, toh Iqbal tetap berterima kasih kepada media. Menurut dia, lewat ramai pemberitaan, keluarga besarnya di Bayah, Banten, jadi tahu Deudeuh sudah pergi untuk selama-lamanya.

Pakar Forensik UI : Pembunuhan Bisa Berawal dari Perampasan Barang Ahli forensik dari Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia, Ferryal Basbeth, mengatakan kasus kematian yang menimpa Alfi bisa saja terjadi karena diawali perampasan barang. Namun polisi harus memastikan adanya barang berharga milik korban yang hilang di tempat kejadian perkara. “Polisi harus bisa menyisir TKP lebih teliti untuk melihat kemungkinan hilangnya barang,” ujar Ferryal. Adanya dugaan perampokan, menurut Ferryal, terlihat dari temuan mulut Deudeuh yang tersumpal kaus kaki. Biasanya, itu terjadi untuk mencegah korban berteriak. Lalu, luka cekik menggunakan kabel pengering rambut juga menjadi modus yang biasa digunakan pembunuh untuk menghentikan napas korban. Sebab, korban cekik atau jerat biasanya adalah orang lanjut usia, bayi, ataupun perempuan.

Adanya temuan ini, kata Ferryal, diduga terjadi karena saat itu Deudeuh memberontak terlalu keras meski sudah disumpal kaus kaki. Akhirnya, pelaku menggunakan jerat untuk melumpuhkan korban secara total. Namun, pakar dari Universitas Yarsi ini meminta polisi memastikan apakah jerat kabel pada leher Alfi menjadi penyebab kematiannya secara signifikan. Sebab, sumpalan kaus kaki juga bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa. “Sumpalan membuat terjadinya pembunuhan secara tidak disengaja karena menyumbat oksigen masuk,” kata Ferryal. Ferryal justru ragu jika hilangnya nyawa Alfi akibat perilaku seksual sadistis.

Sebab, biasanya penyebab pembunuhan ini terlihat dari adanya luka tusukan berkali-kali pada tubuh korban atau multiple stab wound. Perilaku seksual sadistis, sepengamatan Ferryal, terjadi lantaran adanya motif asmara atau pengaruh narkoba. Karena itu, Ferryal meminta polisi memeriksa, apakah ketika dibunuh, korban dalam keadaan mengandung. “Itu bisa menjadi faktor tambahan jika polisi ingin menyelidiki sebab perilaku seksual. Uji toksikologi juga bisa dilakukan.”.

(bry/cr2/mam/dct/tmp/**)